<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533</id><updated>2012-02-10T00:13:41.146-08:00</updated><category term='Kearifan Bugis'/><category term='Gallery'/><category term='PETUAH BUGIS'/><category term='SUKU ENREKANG'/><category term='Musik Budaya'/><category term='SUKU BENTONG'/><category term='Informasi'/><category term='SUKU ULUMANDA'/><category term='SUKU MAKASSAR'/><category term='SUKU MAIWA'/><category term='Wali Tujuh'/><category term='PRINSIP BUGIS'/><category term='SUKU CAMPALAGIAN'/><category term='SUKU KONJO'/><category term='Buku Tamu'/><category term='SUKU  LUWU'/><category term='SUKU MANDAR'/><category term='SUKU BAJO'/><category term='Sastera Bugis'/><category term='BANGSA BUGIS'/><category term='SUKU TATOR'/><title type='text'>Bangsa Bugis</title><subtitle type='html'>Kuberitakan kepada Dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-5767610377138056186</id><published>2011-05-02T21:55:00.001-07:00</published><updated>2011-05-02T22:34:06.294-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik Budaya'/><title type='text'>Lagu Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Musik merupakan perpaduan antara syair lagu dengan alat bunyi-bunyian sehingga menghasilkan gaung indah ke telinga kita. Sedang syair adalah untaian kata menjadi kalimat yang memiliki makna tersendiri. Sekarang ini bermunculan bak jamur lagu-lagu baru baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Begitu pesatnya perkembangan musik dari luar sehingga terdapat fenomena di kalangan generasi kita terkesan lupa jatidiri yang disebabkan pengaruh luar yang tak terkendali. Hal ini wajar-wajar saja akan tetapi kita mengaku sebagai bangsa yang memiliki budaya yang beranaeka ragam ibarat ratnamutumanikam sangat ironis jadinya. Apakah kita selalu menunggu dan disuapi oleh budaya luar padahal belum tentu cocok dengan hati nurani bangsa kita ?&lt;/div&gt;Hm ....dari pada mengkaji panjang x lebar akhirnya luas jadinya. Mari kita menyimak yang di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="50" src="http://www.youtube.com/embed/cDFhl8MFV5A" width="100"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="50" src="http://www.youtube.com/embed/4QnnRzB-mwE" width="100"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="50" src="http://www.youtube.com/embed/trpZR8owVec" width="100"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;embed height="345" src="http://www.box.net//static/flash/box_explorer.swf?widget_hash=x6gy2um3je&amp;amp;v=0&amp;amp;cl=0&amp;amp;s=0" type="application/x-shockwave-flash" width="460" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-5767610377138056186?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/5767610377138056186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2011/05/lagu-bugis_02.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5767610377138056186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5767610377138056186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2011/05/lagu-bugis_02.html' title='Lagu Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/cDFhl8MFV5A/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-2993054306772860230</id><published>2011-05-02T09:21:00.000-07:00</published><updated>2012-01-06T18:34:43.579-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Konsep Siri Na Pesse bagi Bangsa Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-srqBKWcCefk/TwevMeVPhFI/AAAAAAAAEL8/bx6UvNeRNMg/s1600/baco.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-srqBKWcCefk/TwevMeVPhFI/AAAAAAAAEL8/bx6UvNeRNMg/s200/baco.jpg" width="166" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Siri na pessé (Bugis) adalah sebuah konsep yang sangat menentukan dalam identitas orang Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya. Konsep siri’ mengacu pada perasaan malu dan harga diri sedangkan pessé  mengacu pada suatu kesadaran dan perasaan empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh setiap anggota masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. Sekapur Sirih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bangsa Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan umumnya dikenal sebagai penganut adat-istiadat yang kuat. Meskipun telah berkali-kali menemui tantangan berat yang ada kalanya hampir menggoyahkan kedudukannya dalam kehidupan dan pikiran mereka, namun pada akhirnya adat-istiadat tersebut tetap hidup dan bahkan kedudukannya makin kukuh dalam masyarakat hingga kini &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keseluruhan sistem dan norma serta aturan-aturan adat tersebut dikenal dengan pangngadereng yang meliputi lima unsur pokok, yaitu ade’, bicara, rapang, wari, dan sara’. Unsur yang disebutkan terakhir ini berasal dari ajaran Islam, yaitu hukum syariah Islam. Kelima unsur pokok tersebut terjalin antara satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan organik dalam alam pikiran bangsa Bugis, yang memberi dasar sentimen dan rasa harga diri yang semuanya terkandung dalam konsep siri’. Hal ini tercakup dalam sebuah ungkapan dikalangan Bugis yang mengatakan “utettong ri ade’é najagainnami siri-ku”, artinya, saya taat kepada adat demi terjaganya atau terpeliharanya harga diri saya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ungkapan di atas memiliki makna yang sangat dalam dikalangan Bugis. Dengan melaksanakan pangngadereng, berarti seorang Bugis sedang berusaha mencapai martabat hidup yang disebut dengan siri’. Menurut Mattulada (1985:108), siri’ inilah yang mendorong orang Bugis sangat patuh terhadap pangngadereng karena siri pada sebagian besar unsurnya dibangun oleh perasaan halus, emosi, dan sebagainya. Dari sinilah timbul berbagai penafsiran atas makna siri’ seperti malu-malu, malu, hina atau aib, iri hati, dan harga diri atau kehormatan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siri’ dalam pengertian orang Bugis adalah menyangkut segala sesuatu yang paling peka dalam diri mereka, seperti martabat atau harga diri, reputasi, dan kehormatan, yang semuanya harus dipelihara dan ditegakkan dalam kehidupan nyata. Siri’ bukan hanya berarti rasa malu seperti yang umumnya terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat suku lain. Istilah malu di sini menyangkut unsur yang hakiki dalam diri manusia Bugis yang telah dipelihara sejak mereka mengenal apa sesungguhnya arti hidup ini dan apa arti harga diri bagi seorang manusia (Abdullah, 1985:40-41). Begitu pentingnya siri’ dalam kehidupan orang Bugis sehingga mereka beranggapan bahwa tujuan manusia hidup di dunia ini adalah hanya untuk menegakkan dan menjaga siri’.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hakikatnya budaya siri adalah produk kecerdasan lokal untuk membangun kembali tatanan sosial orang Bugis di masa lalu yang kacau balau. Secara historis, kondisi tersebut digambarkan dalam kronik-kronik Bugis dengan pernyataan bahwa kehidupan manusia pada masa itu bagaikan kehidupan ikan di laut, yang besar memangsa yang kecil atau disebut dengan sianrè balè tauwè.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bangsa Bugis juga mempunyai sebuah konsep lain yang disebut Pessé, yaitu semacam perangsang untuk meningkatkan perasaan setia kawan yang di kalangan mereka. Pessé adalah suatu perasaan ikut menanggung dan berbelas kasihan terhadap penderitaan setiap anggota kelompoknya, termasuk orang yang telah dibuat malu. Oleh karena itu, konsep pessé ini akan menjadi suatu sarana untuk memulihkan harga diri orang yang telah dibuat malu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep siri’ dan pessé hingga kini terus memberi pengaruh terhadap seluruh sendi-sendi kehidupan orang Bugis. Situasi siri’ akan muncul ketika seseorang ri pakasiri’ atau dibuat malu karena kedudukan sosialnya dalam masyarakat atau rasa harga diri dan kehormatannya dicemarkan oleh pihak lain secara terbuka. Jika hal ini terjadi, maka orang yang ri pakasiri’ dituntut oleh adat untuk mengambil tindakan untuk menebus atau memulihkan harga dirinya di matanya sendiri maupun di mata masyarakat, yaitu dengan cara menyingkirkan penyebab malu tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang yang ri pakasiri (dibuat malu) tetapi tidak mampu melakukan pemulihan terhadap harga dirinya yang tercemar akan dipandang hina dan dikucilkan oleh masyarakat. Jika hal ini terjadi, maka bagi orang itu pembuangan dianggap lebih baik daripada dikucilkan di tengah-tengah masyarakat. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya orang Bugis pergi merantau atau meninggalkan kampung halamannya karena tidak sanggup menanggung rasa malu di mata masyarakatnya. Berbagai pendapat, bahwa perkawinan adalah realitas sosial yang paling banyak bersinggungan dengan masalah siri ini. Jika pinangan seseorang ditolak, maka pihak peminang bisa merasa mate siri (kehilangan kehormatan) sehingga terpaksa menempuh siliriang (kawin lari). Tindakan ini merupakan perbuatan melanggar adat sehingga seluruh pihak keluarga laki-laki gadis itu merasa berkewajiban untuk membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang yang ri pikasiri’ dapat melakukan jallo (amuk), yaitu membunuh siapa saja, bahkan orang yang tidak terlibat dalam masalah itu pun dapat menjadi sasaran amukannya. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa hal yang cukup ekstrem. Namun, sejak terintegrasikannya agama Islam ke dalam sistem pangngadereng bangsa Bugis, penebusan-penebusan siri berupa pembalasan dan penganiayaan tanpa pertimbangan kemanusiaan mulai berubah. Dengan kata lain, penebusan siri yang sering dianggap orang melampui batas tersebut menjadi lebih terarah penerapannya sejak kedatangan agama Islam. Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar menjauhkan diri dari kejahatan dan perbuatan maksiat seperti membunuh. Namun, jika terjadi kasus yang menyebabkan harga diri seseorang diinjak-injak, maka kasus tersebut diserahkan kepada pihak yang berwewenang, seperti lembaga adat atau pihak kepolisian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2. Konsep Siri’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siri adalah suatu hal yang abstrak dan berada di alam pikiran manusia Bugis. Pengertiannya hanya dapat diketahui melalui pengamatan dan observasi dengan melihat akibat konkret yang ditimbulkannya, yaitu berupa tindakan-tindakan. Oleh sebab itu terkandung pengertian-pengertian tertentu yang meliputi berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan masyarakat dalam kata siri’ ini. Para peneliti terdahulu telah mengkaji mengenai pengertian siri secara leksikal maupun pengertiannya secara luas menurut sudut pandang mereka masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Batasan pengertian kata siri’ sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siri’ berarti malu, isin (Jawa), atau shame (Inggris).&lt;br /&gt;2. Siri’ merupakan daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, mengusir       dan sebagainya terhadap apa atau siapa saja yang dapat menyinggung perasaan atau       harga diri seseorang.&lt;br /&gt;3. Siri’ juga merupakan daya pendorong yang dapat ditujukan ke arah pembangkitan tenaga       untuk membanting tulang dan bekerja mati-matian demi suatu pekerjaan atau usaha.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. siri merupakan pembalasan yang berupa kewajiban moril untuk membunuh pihak yang       melanggar adat. &lt;/div&gt;5. siri’ sebagai perasaan malu yang dapat menimbulkan sanksi dari keluarga yang       dilanggar norma adatnya . &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain pendapat para peneliti, berbagai ungkapan dalam bahasa Bugis yang terwujud dalam kesusasteraan, paseng (nasehat), dan amanat-amanat dari leluhur dapat dijadikan petunjuk untuk memahami tentang pengertian siri’.Seperti ungkapan  berikut:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Siriemmi ri onroang di lino, artinya hanya untuk siri-lah kita hidup di dunia ini. Pengertian siri’ dalam ungkapan ini merupakan hal yang memberikan identitas sosial dan martabat kepada seseorang. Hidup seseorang dianggap berarti jika pada dirinya terdapat martabat atau harga diri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupan bangsa Bugis, siri  merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi ini selain daripada siri’. Bagi manusia Bugis, siri’ adalah jiwa mereka, harga diri mereka, dan martabat mereka. Oleh sebab itu, untuk menegakkan dan membela siri yang tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, maka manusia Bugis akan bersedia mengorbankan apa saja, termasuk jiwanya yang paling berharga demi tegaknya siri dalam kehidupan mereka.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Mate ri sirina, artinya mati dalam siri atau mati karena mempertahankan harga diri. Mati dalam keadaan demikian dianggap mati terpuji atau terhormat. Dalam bahasa Bugis ada juga ungkapan mate rigollai, mate risantangi, yaitu menjalani kematian yang bergula dan bersantan, atau dengan kata lain menjalani kematian yang manis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Mate siri, artinya orang yang sudah hilang harga dirinya tak lebih dari bangkai hidup. Agar tidak dianggap sebagai bangkai hidup, maka orang Bugis merasa dituntut untuk melakukan penegakan siri walaupun nyawanya sendiri terancam. Menurut mereka, lebih baik mati ri risi-na daripada mate siri, artinya lebih baik mati karena mempertahankan harga diri daripada hidup tanpa harga diri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian–pengertian siri di atas memperlihatkan bahwa keberadaan konsep siri dalam kehidupan bangsa Bugis dapat juga menjadi pemutus tali kekeluargaan dan persaudaraan di antara mereka. Namun, dalam realitas sosial, keadaan demikian tidak terjadi karena dapat dinetralisir oleh keberadaan sebuah konsep yang disebut dengan pessé. Secara leksikal, pessé berarti pedis atau perih, sedangkan pessé dalam pengertian luas mengindikasikan perasaan haru (empati) yang mendalam terhadap tetangga, kerabat, atau sesama anggota kelompok sosial.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pessé melambangkan solidaritas bukan hanya pada seseorang yang telah dipermalukan tetapi juga siapa saja dalam kelompok sosial yang sedang dalam keadaan serba kekurangan, berduka, mengalami musibah, atau menderita sakit keras. Jadi, rasa saling pessé antaranggota sebuah kelompok adalah kekuatan pemersatu yang penting. Oleh sebab itu, ada pepatah orang Bugis yang mengatakan “iya sempugi’ku, rekkua de-na sirina, engka messa pesséna”, artinya “kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak lagi menaruh siri’ atasku, paling tidak dia pasti menyisakan pessé”. Dengan demikian, antara siri’ dan pessé harus tetap ada keseimbangan agar bisa saling menetralisir keadaan-keadaan ekstrem yang dapat menjadi pemecah-belah persatuan dan kesatuan komunitas bangsa Bugis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa siri yang muncul dalam diri orang Bugis sebenarnya berasal dari aspek pangngadereng itu sendiri. Oleh karena itu, pemulihan siri tersebut dapat ditempuh melalui nilai-nilai pangngadereng juga. seperti ungkapan berikut:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ada empat hal yang memperbaiki kekeluargaan (pergaulan hidup): (a) kasih sayang dalam    keluarga, (b) saling memaafkan yang kekal, (c) tak segan saling memberi    pertolongan/pengorbanan demi keluhuran, (d) saling mengingatkan untuk berbuat    kebajikan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Bukankah dengan demikian berarti ade’ ada buat kasih sayang, bicara ada buat saling    memaafkan, rapang ada buat saling memberi pengorbanan demi keluhuran, dan adanya wari    buat mengingati perbuatan kebajikan?”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan hidup menurut pangngadereng adalah melaksanakan tuntutan fitrah manusia guna mencapai martabatnya, yaitu siri. Bila pangngadereng beserta aspek-aspeknya tidak ada lagi, akan terhapuslah fitrah manusia, hilanglah siri, dan hidup tidak ada artinya bagi orang Bugis. Oleh karena itulah orang Bugis sangat patuh terhadap pangngadereng demi siri atau harga diri. Orang yang memiliki rasa siri yang tinggi berarti orang yang mempunyai sifat yang mulia dan tinggi nilai atau martabatnya di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, maka perilaku setiap individu harus didasarkan pada sifat “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE,”  artinya pandai mempertimbangkan dan jujur, berani dan teguh pendirian, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ungkapan ini menunjukkan bahwa esensi siri’ hanya mungkin diperoleh seseorang yang pandai dan jujur, berani dan teguh, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, konsep siri’ yang sampai sekarang diyakini secara konsisten oleh orang Bugis mempengaruhi tatanan kehidupan bagi masyarakat pendukungnya. Pengaruh-pengaruh tersebut di antaranya ketaatan kepada pangngadereng, penegakan harga diri atau martabat, identitas sosial, tradisi merantau dan motivasi kerja, dan kontrol sosial,yaitu&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Ketaatan kepada pangngadereng. Konsep siri merupakan tuntutan budaya terhadap setiap individu untuk mempertahankan kesucian pangngadereng sehingga keamanan, ketertiban, dan kesejahtaraan masyarakat tetap terjamin. Pangngadereng adalah sistem norma dan aturan-aturan adat serta tata tertib yang berfungsi sebagai kontrol sosial, baik bersifat preventif maupun represif, dalam mengatur seluruh tingkah laku manusia. Sebagai langkah preventif, dalam sistem ini diajarkan bagaimana manusia mengenal perbuatan yang baik dan buruk. Dengan demikian, seseorang yang akan berbuat sudah mengetahui akibat-akibat dari perbuatannya. Jika terjadi sebuah pelangggaran terhadap tata tertib masyarakat, maka sistem ini akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya kepada siapa pun pelakunya, termasuk penguasa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pangngadereng menunjung tinggi persamaan dan kebjiksanaan namun menolak segala bentuk kesewenang-wenangan, pemerkosaan, penindasan, dan kekerasan. Sistem pangngadereng mengandung esensi yang sangat bernilai bagi pendukungnya, yaitu menjunjung tinggi martabat manusia. Oleh karena itulah setiap individu dituntut untuk menjunjung tinggi dan menaati adat tata kelakuan atau sistem pangngadereng yang berlaku. Dengan melaksanakan pangngadereng, berarti seseorang telah berusaha mencapai martabat hidup yang disebut dengan siri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Penegakan harga diri dan martabat. Siri pada diri manusia Bugis dapat muncul dari berbagai realitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Jika seseorang telah dibuat tersinggung oleh kata-kata atau tindakan orang lain yang dianggapnya tidak sopan, maka seluruh anggota keluarganya akan ikut merasa tersinggung dan melakukan pembalasan terhadap orang itu demi menegakkan harga diri keluarga. Salah satu realitas sosial yang paling banyak bersinggungan dengan masalah siri adalah perkawinan. Jika seseorang telah ri pakasiri’ atau dibuat malu karena anak gadisnya ilariang atau dibawa lari oleh seorang pemuda, maka seluruh pihak keluarga laki-laki gadis itu merasa berkewajiban untuk membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Identitas sosial. Siri adalah unsur yang sangat prinsipil dalam diri orang Bugis. Hidup seseorang dianggap berarti jika pada dirinya terdapat martabat atau harga diri. Menurut mereka, tak ada satu nilai pun yang berharga untuk dibela dan wajib dipertahankan selain daripada siri’ karena hanya untuk siri’-lah kita hidup di bumi ini (siri’ emmi ri onroang ri lino). Ungkapan ini menjadi identitas sosial yang dianut secara bersama-sama oleh golongan-golongan tertentu dalam masyarakat Sulawesi Selatan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Tradisi merantau dan motivasi kerja keras. Keberadaan konsep siri dapat menjadi motif penggerak banyak orang Bugis pergi merantau. Seseorang yang tidak mampu melakukan pembelaan untuk menegakkan harga dirinya, maka ia akan dicap oleh masyarakat sebagai tau de’ gaga siri-na (pengecut, tidak terhormat, atau tidak memiliki harga diri). Oleh karena itu, tidak ada jalan lain yang harus ditempuh kecuali meninggalkan kampung halamannya. Perantau yang berasal dari kelompok ini umumnya merupakan perantau abadi, artinya ia dan keluarganya tidak ingin kembali ke negeri asalnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada pula orang yang merantau terkait dengan masalah siri¸ yaitu para pemuda yang dibuat malu karena pinangannya ditolak akibat ketidamampuannya memenuhi mahar yang diminta oleh pihak keluarga perempuan. Dengan merantau, mereka akan berusaha bangkit untuk mengembalikan harga dirinya di perantauan, walau bagaimanapun keadaan yang dihadapinya. Mereka tidak akan mengeluh, memohon bantuan dan meratapi nasibnya sebagai perantau yang kalah dan cengeng dalam menghadapi berbagai tantangan berat. Mereka akan berusaha mencapai keberhasilan agar dapat memiliki kemampuan materi dan kemudian kembali ke negeri asalnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pemuda yang bertanggung jawab.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Kontrol sosial. Dalam realitas kehidupan orang Bugis, pengertian siri tidak melulu bersifat menentang dalam artian melakukan penebusan-penebusan demi tegaknya harga diri seseorang, tetapi siri’ juga dapat dimaknai sebagai perasaan halus dan suci. Seseorang yang tidak mendengarkan nasehat orang tua, suka mencuri dan merampok, tidak melaksanakan shalat, atau tidak tahu sopan santun juga dianggap sebagai orang yang kurang siri’-nya. Jadi, siri’ dapat menjadi sebuah kontrol sosial bagi setiap individu maupun masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari sehingga pelanggaran-pelanggaran adat, hukum, maupun tata kesopanan dapat terjaga dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Siri yang dianut oleh orang Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk membangun ketertiban, keharmonisan, dan keamanan kehidupan sosial sehingga harga diri dan martabat manusia menjadi bernilai. Hingga sekarang, konsep ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat Bugis sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari. Hanya saja, nilai-nilai yang terkandung di dalam konsep siri sudah mulai luntur. Nilai-nilai siri yang semestinya didasarkan pada “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE” sudah banyak diabaikan oleh sebagian orang sehingga muncul berbagai multitafsir tentang mereka. Oleh karena itu, hendaknya pengertian siri tidak hanya dimaknai secara sempit sehingga dalam prakteknya tidak menyimpang dari makna yang sesungguhnya. Dengan demikian, tatanan kehidupan manusia di muka bumi ini menjadi tertib, harmonis, dan aman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cristian Pelras. 2006. Manusia Bugis. (Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Abdul Rahman Abu, et.al.). Jakarta: Forum Jakarta-Faris École français d’Extrême-Orient.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Edward L. Poelinggomang. 2009. “Bushido’ dan Siri’ mengandung sikap patriot”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid Abdullah. 1985. Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Leonard Y. Andaya. 1983. “Pandangan Arung Palakka tentang desa dan perang Makassar 1666-1669”, Dari Raja Ali Haji hingga Hamka: Indonesia dan masa lalunya, (Ed.) Anthony Reid dan David Marr. Jakarta: Grafiti Pers. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mattulada. 1985. Latao: Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan Sumber lainnya.&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-2993054306772860230?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/2993054306772860230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2011/05/konsep-siri-na-pesse-bagi-bangsa-bugis_02.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2993054306772860230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2993054306772860230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2011/05/konsep-siri-na-pesse-bagi-bangsa-bugis_02.html' title='Konsep Siri Na Pesse bagi Bangsa Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-srqBKWcCefk/TwevMeVPhFI/AAAAAAAAEL8/bx6UvNeRNMg/s72-c/baco.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-3661535131845654142</id><published>2010-03-29T22:07:00.000-07:00</published><updated>2011-02-13T22:27:15.740-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Pakar dari Malaysia Bangga Terhadap Bangsa Bugis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tidak dapat dipungkiri, bahwa peranan diaspora  Bugis dalam sejarah politik di Kesultanan Johor Malaysia memiliki makna  yang sangat strtegis. Terbukti sejak abad ke-17, bangsa  Bugis sudah  memainkan peran politik dalam Kesultanan Johor-Riau dan semenanjung  Tanah Melayu bahkan hingga dalam negara Malaysia modern ini pun sudah  dua orang perdana menteri yang berasal dari keturunan bangsa Bugis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;         Demikian  diungkapkan Dosen Pascasarjana  Universitas Sain Malaysian (USM) Prof. Dr. Mohd Isa Othman di Auditoium  Unismuh Makassar saat Seminar Internasional, Senin (29/3).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurutnya, Bangsa Bugis merupakan bangsa pejuang  terbaik. Katanya, dalam proses perjuangannya, bangsa  Bugis selalu  berada posisi yang terdepan karena memiliki keberanian dan prinsipyang  fundamental (ingat Prinsip Bugis, Red) yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keberanian dimaksud adalah keberanian dengan diploma dan  kecerdikan, keberanian menghadapi lawan dengan keris atau badik bila   diganggu dan keberanian dengan biologis dengan mengawini anak raja atau  sultan sehingga menjadi bahagian dalam proses pemerintahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          Dalam acara seminar itu Dosen Pascasarjana USM, Dr Haji Ishak Saat,  diungkap lewat dalam makalahnya berjudul Warisan Kebangsanaan Melayu  Islam, menuturkan, Melayu dan Islam merupakan dua kekuatan yang tidak  bisa dipisahkan karena kedua hal tersebut memiliki pertalian yang sangat  erat dalam mencapai persatuan dan kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;         Menurutnya, sepanjang sejarah penjajahan barat terdapat banyak tokoh  Melayu-Islam muncul dalam menegakkan dakwah dan meningkatkan kegiatan  keagamaan, sehingga dalam politik Melayu di Malaysia diwarnai dengan  politik Islam yang memiliki akar keberagaman politik Islam-Melayu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pakar dari USM lainnya, Mohd Azhar Bin Bahari,  mengatakan gerakan Islam di Malaysia sangat konsisten dengan issu  keumatan dan sangat peduli dengan gerakan Islam dunia yang merupakan  kekuatan bersama dalam peningkatan Islam sedunia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;(Tribun, Teluk Bone)&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-3661535131845654142?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/3661535131845654142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/pakar-dari-malaysia-bangga-terhadap.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3661535131845654142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3661535131845654142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/pakar-dari-malaysia-bangga-terhadap.html' title='Pakar dari Malaysia Bangga Terhadap Bangsa Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-3897503382360165607</id><published>2010-03-07T09:23:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:27:54.171-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Kepatutan (Mappasitinaja)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi&lt;br /&gt;maniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ungkapan itu, tergambar bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut mappasikoa. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung. Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi. Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan&lt;br /&gt;kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya. Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aja' muangoai onrong, aja' to muacinnai tanre tudangeng, de'tu mullei padecengi tana. Risappa'po muompo, ri jello'po muompo, ri jello'po muakkengau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri. Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan lain yang menganjurkan manusia berbuat wajar adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duampuangenngi ritu gau sisappa nasilolongeng, gau madecennge enrennge sitinajae. Iapa ritu namadeceng narekko silolongenngi duampuangennge. Naia lolongenna ritu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. narekko ripabbiasai aleta mangkau madeceng, mauni engkamuna maperri ri pogaumuiritu.&lt;br /&gt;b. Pakatunai alemu ri sitinajae&lt;br /&gt;c. Saroko mase ri sitinajqe&lt;br /&gt;d. Moloi roppo-roppo narewe&lt;br /&gt;e. Moloi laleng namatike nasanresenngi ri Dewata Seuwaee&lt;br /&gt;f. Akkareso patuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas. Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah:&lt;br /&gt;a. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.&lt;br /&gt;b. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.&lt;br /&gt;c. Ambillah hati orang sepantasnya&lt;br /&gt;d. Menghadapi semak-semak ia surut langkah&lt;br /&gt;e. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhan&lt;br /&gt;f. Berusahalah dengan benar.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, lawan dari kata patut adalah berlebih-lebihan dan serakah. Watak serakah diawali keinginan untuk menang sendiri. Keinginan untuk menang sendiri dapat menghasilkan pertentangan-pertentangan dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan restu dari pihak lain. Manusia yang berbuat serakah, justru akan menghancurkan dirinya sendiri karena orang lain akan menjauhinya. Dan apabila hati manusia dipenuhi sifat serakah, maka tiada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari manusia itu. Dalam Lontarak disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cecceng ponna cannga tenngana sapu ripale cappa'na&lt;br /&gt;(Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Lontarak amat menekankan pentingnya manusia berbuat secara wajar, seperti dapat disimak dalam ungkapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aja' mugaukenngi padammu tau ri gau' tessitinajae&lt;br /&gt;(Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu manusia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Lontarak memperingatkan bahwa sifat serakah atau tamak, sewenang-wenang, curang, perbuatan tega atau tidak menaruh belas kasihan kepada orang lain dapat menghancurkan nilai kepatutan dan dapat menimbulkan kerusakan dalam negara. Pertama, keserahan atau ketamakan, menghilangkan rasa malu sehingga mengambil hak-hak orang lain bukan lagi hal yang tabu. Karena, orang yang bersifat serakah atau tamak tidak pernah merasa cukup sehingga apa yang dimiliki selalu dianggap kurang. Kedua, kekerasan akan menyebabkan melenyapkan kasih sayang di dalam negeri. Artinya, rakyat kecil harus mendapat perlindungan demi tegaknya suatu negara, tetapi kalau pihak yang berkuasa berbuat sewenang-wenang (hanya unjuk kekuatan) berarti kasih sayangnya kepada masyarakat akan hilang yang sekaligus memperlemah kedaulatan rakyat. Ketiga, kecurangan akan memutuskan hubungan keluarga. Artinya, orang yang curang tidak pernah merasa puas atas hak-haknya sendiri. Ia selalu berpikir untuk memiliki hak-hak orang lain. Orang seperti itu, akan menemukan kesulitan dalam hidupnya karena tidak ada orang yang akan mempercayainya. Keempat, perbuatan tega terhadap sesama manusia, melenyapkan kebenaran di dalam negeri. Artinya, para pejabat negeri dituntut untuk berbuat adil kepada rakyatnya. Berbuat tidak adil berarti kebenaran dilecehkan dan bila kebenaran dilecehkan berarti kehancuran bagi negeri. Karena itu, agar negara selamat dan berhasil, para pemimpin haruslah berbekal kejujuran disertai dengan kepatutan. (portalbugis.com)&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-3897503382360165607?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/3897503382360165607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/kepatutan-mappasitinaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3897503382360165607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3897503382360165607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/kepatutan-mappasitinaja.html' title='Kepatutan (Mappasitinaja)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-6294760193065541714</id><published>2010-03-07T09:22:00.001-08:00</published><updated>2011-02-13T22:28:49.902-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Kesetiakawanan (assimellereng)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan, kesatupaduan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara seorang sahabat dengan sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setia kawan, cepat merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan saudaranya berada dalam keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan penyelamatan atas musibah yang menimpa seseorang, dikenal dengan konsep "sipa'depu-repu" (saling memelihara). Sebaliknya, orang yang tidak mempedulikan kesulitan sanak keluarganya, tetangganya, atau orang lain sekali pun disebut bette' perru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi kesehatian dan kerukunan itu disebutkan dalam sebuah ungkapan Bugis:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"tejjali tettappere , banna mase-mase".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ungkapan tersebut biasanya diucapkan ketika seorang tuan rumah kedatangan tamu. Maksudnya adalah "kami tidak mempunyai apa-apa untuk kami suguhkan kepada tuan. Kami tidak mempunyai permadani atau sofa yang empuk untuk tuan duduki. Yang kami miliki adalah kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lontarak sangat menganjurkan manusia memiliki perasaan kemanusiaan yang tinggi, rela berkorban menghormati hak-hak kemanusiaan seseorang, demi kesetiakawanan atau solidaritas antara sesama manusia, berusaha membantu orang, suka menolong orang menderita, berkorban demi meringankan penderitaan dan kepedihan orang lain dan berusaha pula untuk membagi kepedihan itu ke dalam dirinya. Dalam Lontarak disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Iya padecengi assiajingeng:&lt;br /&gt;- Sianrasa-rasannge nasiammase-maseie;&lt;br /&gt;- sipakario-rio;&lt;br /&gt;- Tessicirinnaiannge ri sitinajae;&lt;br /&gt;- Sipakainge' ri gau' patujue;&lt;br /&gt;- Siaddappengeng pulanae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yang memperbaiki hubungan kekeluargaan yaitu:&lt;br /&gt;- Sependeritaan dan kasih-mengasihi;&lt;br /&gt;- Gembira menggembirakan;&lt;br /&gt;- Rela merelakan harta benda dalam batas-batas yang wajar;&lt;br /&gt;- Ingat memperingati dalam hal-hal yang benar;&lt;br /&gt;- Selalu memaafkan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dorongan perasaan solidaritas untuk membela, menegakkan, memperjuangkan harkat kemanusiaan orang lain atau perasaan senasib sepenanggungan di antara keluarga, kerabat, dan masyarakat dilukiskan dalam ungkapan-ungkapan Lontarak sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Eppai rupanna padecengi asseajingeng:&lt;br /&gt;- Sialurusennge' siamaseng masseajing.&lt;br /&gt;- Siadampengeng pulanae masseajing.&lt;br /&gt;- Tessicirinnaiannge warangparang masseajing, ri sesena gau' sitinajae.&lt;br /&gt;- Sipakainge' pulannae masseajing ri sesena gau' patujue sibawa winru' madeceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Empat hal yang mengeratkan hubungan kekeluargaan:&lt;br /&gt;- Senantiasa kasih mengasihi sekeluarga.&lt;br /&gt;- Maaf memaafkan sekeluarga.&lt;br /&gt;- Rela merelakan sebagian harta benda sekeluarga dalam batas-batas yang layak.&lt;br /&gt;- Ingat memperingati sekeluarga demi kebenaran dan tujuan yang baik.)&lt;br /&gt;(portalbugis.com)&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-6294760193065541714?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/6294760193065541714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/kesetiakawanan-assimellereng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6294760193065541714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6294760193065541714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/kesetiakawanan-assimellereng.html' title='Kesetiakawanan (assimellereng)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-5265572225847272370</id><published>2010-03-07T09:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:29:06.015-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Motivasi   (Reso Temmangingngi)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aja' mumaelo' ribetta makkalla ri cappa alletennge&lt;br /&gt;(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa risiko yang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;besar. Dalam sebuah ungkapan Lontarak ditekankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.&lt;br /&gt;(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu memberi pelajaran bahwa untuk memperoleh keberhasilan, seseorang tidak hanya berdo'a, tetapi harus bekerja keras dan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambo Enre (1992) mengutip sebuah ungkapan pesan Bugis bagi perantau-perantau sebelum meninggalkan kampung halaman sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akkellu peppeko mulao,&lt;br /&gt;a'bulu rompeko murewe'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesan itu diperuntukkan kepada para perantau agar terdorong bekerja keras di negeri rantauannya. Serta mempunyai tekad yang kuat untuk tidak kembali ke kampung halamannya sebelum berhasil. Dalam kaitannya dengan usaha, waktu atau kesempatan merupakan salah satu faktor penentu dalam meraih kemenangan (Tang, 2007). Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Bugis disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu&lt;br /&gt;(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pentingnya menghargai waktu/kesempatan, pentingnya seseorang menghindari perbuatan memetik keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tergambar dalam ungkapan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.&lt;br /&gt;(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu menganjurkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang dituntut bekerja keras, tidak menyandarkan harapannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;(portalbugis.com)&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-5265572225847272370?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/5265572225847272370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/motivasi-reso-temmangingngi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5265572225847272370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5265572225847272370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/motivasi-reso-temmangingngi.html' title='Motivasi   (Reso Temmangingngi)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-3561986430494583829</id><published>2010-03-07T09:18:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:29:26.016-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Penegakan Hukum (Patettong Bicara)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri' (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng atau peradaban) dianggap sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri. Siri' atau harga diri merupakan landasan bagi "pemimpin" untuk senantiasa menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Pemimpin yang tidak mampu menegakkan hukum dianggap pemimpin lembek atau banci. Seseorang yang tidak mempunyai Siri' diumpamakan sebagai bangkai yang berjalan. Dalam ungkapan Bugis disebutkan: Siri' emmi to riaseng tau (Hanya karena Siri'-lah kita dinamakan manusia). Itulah sebabnya mengapa para orang tua Bugis menjadikan Siri' sebagai hal yang amat penting dalam nasihat-nasihat, sebagaimana dituturkan oleh Muhammad Said sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Taro-taroi alemu siri'&lt;br /&gt;Narekko de' siri'mu inrekko siri'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Perlengkapilah dirimu dengan siri', Kalau tidak ada siri'-mu, pinjamlah siri'.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dunia realitas, sering dijumpai seorang manusia Bugis mengorbankan sanak keluarga yang paling dicintainya demi mempertahankan harga diri dan martabatnya di tengah masyarakat. Dalam sejarah disebutkan bahwa di Sidenreng Rappang pada abad XVI, La Pagala Nene Mallomo, seorang hakim (pabbicara), dan murid dari La Taddampare, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri yang amat dicintainya karena telah terbukti mengambil luku orang lain tanpa seizin dengan pemiliknya. Tentu saja kejadian itu telah mencoreng muka ayahnya sendiri yang dikenal sebagai hakim yang jujur. Ketika ditanya mengapa ia memidana mati putranya sendiri dan apakah dia menilai sepotong kayu sama dengan jiwa seorang manusia, beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Ade'e temmakeana' temmakke eppo"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pidana mati itu dilakukan semata-mata untuk mempertahankan harga dirinya sebagai hakim yang jujur di tengah-tengah masyarakatnya. Sekiranya ia memberikan pengampunan kepada putranya sendiri, tentulah ia akan menanggung malu yang sangat dalam karena akan dicibir oleh masyarakat sekitarnya, dan wibawanya sebagai hakim yang jujur akan hilang seketika. Bagi masyarakat Bugis, falsafah "taro ada taro gau" (satunya kata dengan perbuatan) adalah suatu keharusan. Manusia yang tidak bisa menyerasikan antara perkataan dan perbuatannya akan mendapat gelar sebagai manusia "munafik" (munape), suatu gelar yang sangat dihindari oleh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;manusia Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adat yang telah merupakan jiwa dan semangat manusia Bugis berlaku umum dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Adat atau panngadereng tidak mengenal kedudukan, kelas sosial, derajat kepangkatan, status sosial ekonomi, dan lain-lain, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman adat terhadap manusia-manusia yang telah melakukan pelanggaran. Dari mana pun asal manusia itu, apakah dia seorang raja, putra mahkota, orang kaya, bangsawan, sama sekali tidak mempunyai hak istimewa dalam kehidupan panngadereng masyarakat Bugis. Kedudukan kelompok elite dan masyarakat biasa diperlakukan sama dalam kehidupan masyarakat. Faktor inilah yang telah menempatkan adat pada tempat yang teratas dalam diri manusia Bugis: "Ade'temmakiana', temmakieppo" (adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Data tentang bagaimana adat diperlakukan kepada semua kelompok masyarakat, berikut beberapa data historis yang dicatat oleh Abidin sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Pada waktu Lamanussa Toakkarangeng menjadi Datu Soppeng, orang-orang Soppeng pernah hampir kelaparan karena kemarau panjang. Beliau menyelidiki sebab-sebab bencana kelaparan itu, tetapi tak ada seorang pejabat kerajaan pun yang melakukan perbuatan sewenang- wenang. Setelah beliau merenung, beliau mengingat bahwa beliau pernah memungut suatu barang di sawah seorang penduduk dan disimpannya di rumahnya sendiri. Perbuatan beliau inilah yang menurutnya menyebabkan mala petaka itu, pikir beliau. Beliau mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada diri sang Datu. Hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya sendiri adalah berupa denda, yaitu beliau memotong kerbau dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Di hadapan rakyatnya, beliau menyatakan diri bersalah karena telah memungut suatu barang dari sawah seseorang dan menyimpannya sendiri. Beliau mengumumkan barang tersebut di tengah pesta tudang sipulung (duduk bersama), tetapi tak seorang pun yang mengaku telah kehilangan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika La Pabbelle' putra Arung Matoa Wajo yang X La Pakoko Topabbele' memperkosa wanita di kampung Totinco, ia dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Raja Bone yang bernama La Ica' dibunuh oleh orang-orang Bone karena kekejamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Raja Bone yang bernama La Ulio "Bote'" (Sigendut) meninggal diamuk di kampung Utterung, karena dianggap berbuat sewenang-wenang kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketika Toangkone Ranreng Bettempola pada abad XV dibuktikan menculik wanita yang bernama We Neba untuk diserahkan kepada temannya Opu Rajeng dari Luwu, maka ia dijatuhi pidana dipecat dengan tidak hormat lalu diusir untuk seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. La Temmasonge putra raja Bone La Patau Matanna Tikka pada tahun 1710 dipidana "ripaoppangi tana" (diusir keluar Bone dan dibuang ke Buton) karena membunuh Arung Tiboyong, seorang anggota dewan pemangku adat Bone. Raja Luwu menyingkirkan putrinya (yang terserang penyakit kulit yang menular) dari istina karena atas permintaan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-3561986430494583829?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/3561986430494583829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/penegakan-hukum-patettong-bicara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3561986430494583829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3561986430494583829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/penegakan-hukum-patettong-bicara.html' title='Penegakan Hukum (Patettong Bicara)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-5032885373752911529</id><published>2010-03-07T09:17:00.001-08:00</published><updated>2011-02-13T22:29:45.798-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Demokrasi (Amaradekangeng)</title><content type='html'>Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai:&lt;br /&gt;Seuani, tenrilawai ri olona.&lt;br /&gt;Maduanna, tenriangkai' riada-adanna.&lt;br /&gt;Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusa taro arung, tenrusa taro ade,&lt;br /&gt;Rusa taro ade, tenrusa taro anang,&lt;br /&gt;Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Raja atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan untuk mengurus administrasi,&lt;br /&gt;keamanaan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di atas sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan rakyat. Kata "demokrasi" berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau tentang volonte generale atau kehenak umum dan volonte de tous atau kehendak khusus, jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem pemerintahan yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan (antara penguasa dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan adalah kepentingan rakyat (umum).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak secara ekstra hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah terlebih dahulu dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah rakyat. Hal tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai berikut. "Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang rendah saya tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang tinggi saya tempatkan di atas."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketetapan hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis menunjukkan bahwa raja tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu sendiri tidak merasa nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu berusaha berbuat sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara adalah sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja sama sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah melanggar kedaulatan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Mannganro ri ade', memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai akibat kesalahan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Mapputane', menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Mallimpo-ade', protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-wenang raja, dan karena usaha melalui mapputane' gagal. Orang banyak, tetapi tanpa perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;permasalahannya selesai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara prinsipial masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan panngadereng oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Mallekke' dapureng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat kesewenang-wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh. Mereka berkata: "Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang melepaskan diri dari kekuasaannya".(Mattulada, 1985)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hak koreksi rakyat terhadap perbuatan sewenang-wenang pemimpin atau pejabat negara, merupakan bukti bahwa kehidupan bernegara manusia Bugis menekankan unsur "demokrasi".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-5032885373752911529?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/5032885373752911529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/demokrasi-amaradekangeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5032885373752911529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5032885373752911529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/demokrasi-amaradekangeng.html' title='Demokrasi (Amaradekangeng)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-1118705579761865049</id><published>2010-03-07T09:15:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:30:03.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah good governance tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan mengenai politik dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila dilacak agak teliti, penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga, good governance pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah resolusi The Council of the European Community yang membahas Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Pembangunan.. Di dalam resolusi itu disebutkan, diperlukan empat prasyarat lain untuk dapat mewujudkan Pembangunan yang berkelanjutan,yaitu mendorong penghormatan atas hak asasi manusia, mempromosikan nilai demokrasi, mereduksi budget pengeluaran militer yang berlebihan dan mewujudkan good governance. Sejak saat itu, good governance mulai diperbincangkan dan diakomodasi dalam berbagai konvensi dan resolusi yang berkaitan dengan pembangunan, baik dalam perbincangan pembangunan di UNDP maupun di Lome Convention, Bantuan Pembangunan yang bersifat Multilateral dan Bilateral.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih (Effendi, 2005).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik, seorang pemimpin dituntut memiliki 4 kualitas yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Keempat kualitas itu terungkap dalam ungkapan Bugis:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maccai na Malempu;&lt;br /&gt;Waraniwi na Magetteng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Cendekia lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila ungkapan di atas diurai maka ada empat karakteristik seorang pemimpin yang diangap dapat memimpin suatu negeri, yaitu: cendekia, jujur, berani, dan teguh dalam pendirian. Ungkapan itu bermakna bahwa kepandaian saja tidak cukup. Kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran, karena banyak orang pandai menggunakan kepandaiannya membodohi orang lain. Karerna itu, kepandaian haruslah disetrtai dengan kejujuran. Selanjutnya, keberanian saja tidak cukup. Keberanian haruslah disertai dengan keteguhan dalam pendirian. Orang yang berani tetapi tidak cendekia dan teguh dalam pendirian dapat terjerumus dalam kenekadan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Syarat terselenggaranya pemerintahan negeri dengan baik terungkap dalam Lontarak bahwa pemimpin negeri haruslah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jujur terhadap Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan sesamanya manusia.&lt;br /&gt;2. Takut kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan menghormati rakyatnya dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.&lt;br /&gt;3. Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara pejabat kerajaan dan rakyat.&lt;br /&gt;4. Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.&lt;br /&gt;5. Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).&lt;br /&gt;6. Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.&lt;br /&gt;7. Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.&lt;br /&gt;8. Jujur dalam segala keputusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, I Mangada'cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang membuat pesan yang isinya bahwa ada lima sebab yang menyebabkan negeri itu rusak, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.&lt;br /&gt;2. Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.&lt;br /&gt;3. Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.&lt;br /&gt;4. Kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu negara.&lt;br /&gt;5. Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya.&lt;br /&gt;(portalbugis.com)&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-1118705579761865049?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/1118705579761865049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/konsep-pemerintahan-yang-baik-good.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1118705579761865049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1118705579761865049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/konsep-pemerintahan-yang-baik-good.html' title='Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-4080467293963100021</id><published>2010-03-07T09:12:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:30:30.488-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan Bugis'/><title type='text'>Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bahasa Bugis, ati mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia' madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata nia' maja' (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran bengkok). Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tindakan bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau itikad baik (nia mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Bawaan hati yang baik mengandung tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c) mengatur emosi-emosi. Pertama, manusia menyucikan dan memurnikan hatinya dari segala nafsu- nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan. Niat suci atau bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat menjaga manusia dari serangan sifat-sifat tercela. Ia bagai permata bercahaya yang dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih yang belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat menodai kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan maupun perbuatan dapat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;terkendali dengan baik. Dalam Lontara' disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kuala sappo, unganna panasae, belo kanukue&lt;br /&gt;(Dua kujadikan pagar, bunga nangka, hiasan kuku.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bahasa Bugis, bunga nangka disebut lempu yang berasosiasi dengan kata jujur, sedangkan hiasan kuku dalam bahasa Bugis disebut pacci yang kalau ditulis dalam aksara Lontara' dapat dibaca paccing yang berarti suci atau bersih. Bagi manusia Bugis, segala macam perbuatan harus dimulai dengan niat suci karena tanpa niat suci (baik), tindakan manusia tidak mendapatkan ridha dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang yang mempunyai bawaan hati yang baik tidak akan pernah goyah dalam pendiriannya yang benar karena penilainnya jernih. Demikian pula, ia sanggup melihat kewajiban dan tanggung jawabnya dengan lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kedua, manusia sanggup untuk mengejar apa yang memang direncanakannya, tanpa dibelokkan ke kiri dan ke kanan. Lontara' menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atutuiwi anngolona atimmu; aja' muammanasaianngi ri ja'e padammu rupa tau nasaba' mattentui iko matti' nareweki ja'na apa' riturungenngi ritu gau' madecennge riati maja'e nade'sa nariturungeng ati madecennge ri gau' maja'e. Naiya tau maja' kaleng atie lettu' rimonri ja'na.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya keburukan itu.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kutipan Lontara' di atas menitikberatkan pentingnya seorang individu untuk memelihara arah hatinya. Manusia dituntut untuk selalu berniat baik kepada sesama. Memelihara hati untuk selalu berhati bersih kepada sesama manusia akan menuntun individu tersebut memetik buah kebaikan. Sebaliknya, individu yang berhati kotor, yaitu menghendaki keburukan terhadap sesama manusia, justru akan menerima akibat buruknya. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang individu untuk memikirkan hal-hal buruk terhadap sesama manusia. Dengan kata lain, agar setiap individu dapat memetik keberuntungan atau keberhasilan dalam hidup sesuai dengan cita-citanya, ia terlebih dahulu harus memelihara hatinya dari penyimpangan-penyimpangan. Jika menginginkan orang berbuat baik kepadanya, ia harus terlebih dahulu berniat dan berbuat baik kepada orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, manusia tidak membiarkan dirinya digerakkan oleh nafsu-nafsu, emosi-emosi, perasaan-perasaan, kecondongan-kecondongan, melainkan diatur suatu pedoman (toddo), yang memungkinkannya untuk menegakkan harkat dan martabat manusia sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian ia tidak diombang-ambingkan oleh segala macam emosi, nafsu dan perasaan dangkal. Jadi, pengembangan sikap-sikap itu membuat kepribadian manusia menjadi lebih kuat, lebih otonom dan lebih mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya. Dalam Lontara' Latoa ditekankan bahwa bawaan hati yang baik menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik pula, yang sekaligus menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Dalam memperlakukan diri sebagai manusia, bawaan hati memegang peranan yang amat penting. Bawaan hati yang baik mewujudkan kata-kata dan perbuatan yang benar yang sekaligus dapat menimbulkan kewibawaan dan apa yang diucapkan akan tepat pada sasarannya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makkedatopi Arung Bila, eppa tanrana tomadeceng kalawing ati, seuani, passu'i ada napatuju, maduanna, matuoi ada nasitinaja, matellunna duppai ada napasau, maeppa'na, moloi ada napadapi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Berkata pula Arung Bila, ada empat tanda orang baik bawaan hatinya. Pertama, mengucapkan kata yang benar. Kedua, menyebutkan kata yang sewajarnya. Ketiga, menjawab dengan kata yang berwibawa. Keempat, melaksanakan kata dan mencapai sasarannya.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping bawaan hati yang baik sebagai motor pendorong dalam manifestasi perbuatan manusia dalam dunia realitas, terdapat lagi suatu hal dalam diri manusia yang harus dipelihara, yaitu pikiran. Bagi manusia Bugis, hati dan pikiran yang baik merupakan syarat untuk menghasilkan kebaikan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(portalbugis.com)&lt;br /&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-4080467293963100021?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/4080467293963100021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/bawaan-hati-yang-baik-ati-mapaccing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4080467293963100021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4080467293963100021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/bawaan-hati-yang-baik-ati-mapaccing.html' title='Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-4373446831356858015</id><published>2010-03-07T09:10:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:30:52.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastera Bugis'/><title type='text'>Permainan Bahasa, Kunci Jawaban</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;SEPERTI telah kita lihat, &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; mengandung dua atau tiga pernyataan teka-teki. Jika kita telah menemukan rujukan yang ditunjuk oleh frase-frase itu, kita akan segera menemukan makna puisi—tentu saja jika paham bahasa dan aksara Bugis. Permainan basa to bakke’ memang menjadi kunci jawaban dari teka-teki dalam sebuah élong maliung bettuanna. Permainan bahasa inilah yang paling menarik dari jenis puisi ini, hal yang kemungkinan besar tak akan ditemui dalam puisi lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Sesungguhnya, dalam &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; ada pola-pola umum permainan bahasa orang Bakke yang paling sering digunakan. &lt;i class="spip"&gt;Basa to Bakke&lt;/i&gt; biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (&lt;i class="spip"&gt;geographical&lt;/i&gt;), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (&lt;i class="spip"&gt;botanical&lt;/i&gt;), dan 3) tentang binatang (&lt;i class="spip"&gt;zoological&lt;/i&gt;). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;TERNYATA bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; tak lagi pernah dipentaskan atau dituliskan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Mengadopsi puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia terperangkap oleh segelintir nama-nama besar, seperti Sapardi Djoko Damono, Suardji Calzum Bachri, Goenawan Mohamad dan Afrizal Malna. Kekuatan &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; salah satunya adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi—hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair-penyair Indonesia kontemporer. Tak banyak jenis puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; juga menarik untuk dilihat dari segi matra. Élong maliung bettuanna ini memiliki aturan matra, terdiri dari tiga baris dan tiap barisnya biasanya terdiri dari delapan, tujuh atau enam suku kata. Puisi-puisi Bugis seperti dijelaskan dalam Tol (1992:83) memiliki tiga jenis matra; &lt;i class="spip"&gt;pentasyllabic metre&lt;/i&gt; (seperti yang diperlihatkan dalam La Galigo), &lt;i class="spip"&gt;octosyllabic metre&lt;/i&gt; (seperti dalam teks puisi-puisi naratif Bugis) dan &lt;i class="spip"&gt;élong metre&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Meskipun memang rumit memahami genre ini, namun tetap terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati élong maliung bettuanna, salah satunya melalui permainan bahasa. Permainan bahasa seperti &lt;i class="spip"&gt;Basa to Bakke’&lt;/i&gt; yang telah dijelaskan dalam tulisan ini mungkin pula akan membuat, khususnya orang-orang Bugis, belajar dan mencintai kembali bahasa dan aksara Bugis. Selain tak berminat pada sastra klasik, orang-orang juga mulai tak meminati bahasa daerah.&lt;br /&gt;(portalbugis,com)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-4373446831356858015?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/4373446831356858015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/permainan-bahasa-kunci-jawaban.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4373446831356858015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4373446831356858015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/permainan-bahasa-kunci-jawaban.html' title='Permainan Bahasa, Kunci Jawaban'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-4234838571663080517</id><published>2010-03-07T09:08:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:31:15.551-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastera Bugis'/><title type='text'>Menyembunyikan Maksud di Balik Tiga Lapis Sarung</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;NAMPAKNYA seperti dikatakan oleh dua baris akhir sebuah soneta Shakespeare, &lt;i class="spip"&gt;so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee&lt;/i&gt;, orang Bugis sejak lama telah menyadari signifikansi puisi. Misalnya saja dengan membuat aturan-aturan tertentu untuk memahami sebuah bait &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt;. Aturan-aturan khusus itulah yang membuat genre puisi ini menjadi sangat unik dan menarik. Tidak saja dalam &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt;, tetapi begitu banyak karya-karya penting, pendek maupun panjang, ditulis menggunakan puisi.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Tak banyak peminat dan sarjana sastra yang membahas jenis puisi élong maliung bettuanna mungkin dikarenakan dua faktor penting yang sama-sama susah dipahami; matra dan &lt;i class="spip"&gt;archaic vocubulary&lt;/i&gt; yang digunakan. Secara harafiah, &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; berarti ‘lagu yang dalam maknanya’ (&lt;i class="spip"&gt;maliung&lt;/i&gt; berarti ‘dalam’ dan &lt;i class="spip"&gt;bettuanna&lt;/i&gt; berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’). Dengan kata lain, &lt;i class="spip"&gt;élong&lt;/i&gt; ini adalah puisi dengan makna tersembunyi. Sebagaimana jenis &lt;i class="spip"&gt;élong&lt;/i&gt; lain, &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; pun menggunakan simbol, matra dan bentuk khas. Tetapi jenis &lt;i class="spip"&gt;élong&lt;/i&gt; ini memiliki satu perbedaan yakni penggunaan crypto-language yang sangat khas yang disebut &lt;i class="spip"&gt;Basa to Bakke’&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;&lt;i class="spip"&gt;Basa to Bakke’&lt;/i&gt; secara harafiah berarti ‘bahasa orang-orang Bakke’’. Sebenarnya penamaan ini merujuk kepada seseorang bernama Datu Bakke’, Pangeran dari Bakke’, yang dikenang karena kecerdasan dan keintelektualannya. Nama orang ini banyak disebut-sebut dalam literatur sejarah Bugis, utamanya Soppeng. Bakke’ sendiri adalah nama sebuah daerah di Soppeng, Sulawesi Selatan. Bisa terjadi kesalahpengertian di sini, sebab seolah-olah ada bahasa lain selain bahasa Bugis yang digunakan dalam puisi Bugis ini. Sehingga sesungguhnya Basa to Bakke lebih cocok diartikan sebagai permainan bahasa Bakke’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;&lt;i class="spip"&gt;Basa to Bakke’&lt;/i&gt; menjadi ciri khas dalam puisi teka-teki Bugis atau &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; ini. Sangat berlainan dengan pantun teka-teki yang hanya menggunakan simbol untuk menyembunyikan jawaban, teka-teki &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; tersembunyi di balik tiga lapis sarung. Untuk tiba pada makna sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh penulisnya, tiga lapis sarung itu harus disingkap satu per satu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Kalau tuan bawa keladi&lt;br /&gt;Bawakan juga si pucuk rebung&lt;br /&gt;Kalau tuan bijak bestari&lt;br /&gt;Binatang apa tanduk di hidung ?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Bandingkan pantun di atas dengan sebuah teka-teki a la puisi Bugis yang dikutip dari Tol dkk (1992:85) berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;&lt;i class="spip"&gt;Kégana mumaberrekkeng,&lt;br /&gt;buaja bulu’édé,&lt;br /&gt;lompu’ walennaé?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;(Mana lebih kau suka,&lt;br /&gt;buaya gunung,&lt;br /&gt;atau lumpur sungai?)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Tentu tak susah menemukan jawaban teka-teki pantun di atas. Pantun itu adalah teka-teki Budi di buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk murid Kelas III Sekolah Dasar zaman orde baru. Tetapi bagaimana menemukan ‘jawaban’ teka-teki Bugis di atas? Sebenarnya puisi itu ingin menyampaikan makna: ‘mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki beberapa keunikan dibandingkan, misalnya, dengan aksara Latin. Aksara Bugis, sebagaimana kebanyakan aksara di Asia, memiliki kecacatan. Kekurangan yang sekaligus bisa jadi kelebihan itu di antaranya adalah tidak adanya huruf mati (&lt;i class="spip"&gt;final velar nasals&lt;/i&gt;), &lt;i class="spip"&gt;glottal stop&lt;/i&gt;, dan konsonan rangkap (&lt;i class="spip"&gt;geminated consonants&lt;/i&gt;). Aksara Bugis, nyaris sama dengan aksara Jepang, setiap hurufnya adalah satu suku kata (&lt;i class="spip"&gt;syllabel&lt;/i&gt;). Satu silabel dalam aksara Bugis bisa dibaca dengan berbagai cara. Contohnya, huruf untuk silabel ‘pa’ bisa saja dibaca /pa/, /ppa/, /pang/, /ppang/, /pa’/, atau /ppa’/. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan &lt;i class="spip"&gt;Basa to Bakke’&lt;/i&gt; dalam &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Dalam satu &lt;i class="spip"&gt;élong&lt;/i&gt; yang disebutkan tadi, sarung pertama yang harus disingkap untuk menemukan jawabannya telah dilakukan dengan memperlihatkan arti puisi itu. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan (frase). Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, &lt;i class="spip"&gt;buaja bulue’édé&lt;/i&gt; dan l&lt;i class="spip"&gt;ompu’ walennaé&lt;/i&gt;. &lt;i class="spip"&gt;Buaja bulu’édé&lt;/i&gt; berarti ‘buaya gunung’ dan &lt;i class="spip"&gt;lompu’ walennaé&lt;/i&gt; berarti ‘lumpur sungai’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari frase yang telah ditemukan. Dalam penyingkapan sarung kedua ini, memang sangat erat kaitannya dengan pengetahuan dan alam pikiran budaya Bugis. &lt;i class="spip"&gt;Buaja bulu’édé&lt;/i&gt; (buaya gunung) dalam budaya Bugis merujuk kepada &lt;i class="spip"&gt;macang&lt;/i&gt; (macan) dan &lt;i class="spip"&gt;lompu’ walannaé&lt;/i&gt; (lumpur sungai) menunjuk kepada &lt;i class="spip"&gt;kessi’&lt;/i&gt; (pasir).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Jika hanya sampai di sini, puisi itu akan berarti ‘mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?’ Tentulah ini akan menjadi sebuah pernyataan yang tidak logis. Tetapi memang bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Masih ada satu lapis sarung yang harus disingkapkan. Di tahapan inilah permainan bahasa tadi digunakan. Dalam tulisan aksara Bugis, kata &lt;i class="spip"&gt;macang&lt;/i&gt; (macan) sama dengan &lt;i class="spip"&gt;macca’&lt;/i&gt; (cerdas) dan &lt;i class="spip"&gt;kessi’&lt;/i&gt; (pasir) sama dengan &lt;i class="spip"&gt;kessing&lt;/i&gt; (elok atau cantik). Masing-masing ditulis /ma-ca/ (ingat, tak ada &lt;i class="spip"&gt;final velar nasals&lt;/i&gt; dan &lt;i class="spip"&gt;geminated consonant&lt;/i&gt; dalam aksara Bugis) dan /ke-si/ (ingat juga tak ada &lt;i class="spip"&gt;glottal stop&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Akhirnya makna puisi itu menjadi ‘mana yang lebih kau suka, (perempuan) cerdas atau (perempuan) cantik?’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Perhatikan satu contoh lagi berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;&lt;i class="spip"&gt;Gellang riwata’ majjékko,&lt;br /&gt;Anré-anréna to Menre’é,&lt;br /&gt;aténa unnyié.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;(Tembaga melengkung di ujung,&lt;br /&gt;makanan orang Mandar,&lt;br /&gt;hati kunyit.)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Puisi teka-teki yang berarti ‘aku mencintaimu’ ini bisa disingkap jawabannya dengan cara yang sama. &lt;i class="spip"&gt;Gellang riwata’ majjékko&lt;/i&gt; merujuk kepada &lt;i class="spip"&gt;méng&lt;/i&gt; (kail), &lt;i class="spip"&gt;anré-anréna to Menre’é&lt;/i&gt; merujuk kepada &lt;i class="spip"&gt;loka&lt;/i&gt; (pisang)—konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan &lt;i class="spip"&gt;aténa unnyié&lt;/i&gt; merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi /me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca &lt;i class="spip"&gt;mélo’ ka ridi&lt;/i&gt; yang artinya ‘aku mencintaimu’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Tiga lapis sarung itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; sarung pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan atau sampiran dan bunyi. Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali sampiran itu; &lt;i class="spip"&gt;gellang riwata majjékko, anré-anréna to Menre’é&lt;/i&gt;, dan &lt;i class="spip"&gt;aténa unnyié&lt;/i&gt;. Sampiran dari frase itu, secara berurutan masing-masing; &lt;i class="spip"&gt;méng&lt;/i&gt; (kail), loka (pisang), dan &lt;i class="spip"&gt;ridi&lt;/i&gt; (kuning). Lapis kedua adalah bunyi &lt;i class="spip"&gt;méng, loka,&lt;/i&gt; dan &lt;i class="spip"&gt;ridi&lt;/i&gt;. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis sarung selanjutnya untuk menemukan makna (isi), bunyi &lt;i class="spip"&gt;meng&lt;/i&gt; dalam aksara Bugis ditulis /me/, bunyi &lt;i class="spip"&gt;loka&lt;/i&gt; ditulis /lo-ka/, dan bunyi &lt;i class="spip"&gt;ridi&lt;/i&gt; ditulis /ri-di/. Untuk menemukan makna &lt;i class="spip"&gt;élong&lt;/i&gt; semua bunyi itu dirangkai menjadi /me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi &lt;i class="spip"&gt;mélo’ka ridi&lt;/i&gt; yang maknanya ‘aku mencintaimu’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Jika dalam pantun baris pertama-kedua adalah sampiran dan baris ketiga-keempat adalah isi, maka dalam &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; bunyi (lapis kedua) yang menjadi sampiran sekaligus petunjuk untuk masuk ke lapis selanjutnya yaitu isi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Jika disederhanakan, rumus tiga lapis sarung untuk menyingkap makna &lt;i class="spip"&gt;élongmaliung bettuanna&lt;/i&gt; di atas bisa menjadi: (1) frase, (2) bunyi, dan  (3) makna.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Lihat contoh berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;&lt;i class="spip"&gt;Inungeng mapekke’-pekke’&lt;br /&gt;balinna ase’édé,&lt;br /&gt;bali ulu balé.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;(Minuman pekat,&lt;br /&gt;kebalikan atas,&lt;br /&gt;kebalikan kepala ikan.)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti ’saya tak suka padamu’. Makna itu ditemukan dari rangkaian kata &lt;i class="spip"&gt;téng, awa&lt;/i&gt;, dan &lt;i class="spip"&gt;ikko&lt;/i&gt; yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi /te-a-wa-(r)i-ko/, ‘aku tidak mau atau benci padamu’. Frase &lt;i class="spip"&gt;élong&lt;/i&gt; itu adalah &lt;i class="spip"&gt;inungeng mapekke-pekke, balinna ase’édé,&lt;/i&gt; dan &lt;i class="spip"&gt;bali ulu balé&lt;/i&gt;. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah &lt;i class="spip"&gt;téng&lt;/i&gt; (teh), &lt;i class="spip"&gt;awa&lt;/i&gt; (bawah), dan &lt;i class="spip"&gt;ikko&lt;/i&gt; (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi /te-a-wa-(r)i-ko/. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca &lt;i class="spip"&gt;téawa (r)iko&lt;/i&gt;, ‘aku tak suka padamu’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (&lt;i class="spip"&gt;compactness&lt;/i&gt;) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih. Tuntutan-tuntutan semacam itu tentu lebih longgar pada genre lain seperti prosa (cerita pendek dan novel).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;Selain puitis, &lt;i class="spip"&gt;élong maliung bettuanna&lt;/i&gt; juga memang kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak akan serumit yang kita duga. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dulu) menyembunyikan maksudnya di balik berlapis-lapis sarung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="spip"&gt;(portalbugis.com)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-4234838571663080517?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/4234838571663080517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/menyembunyikan-maksud-di-balik-tiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4234838571663080517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4234838571663080517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/menyembunyikan-maksud-di-balik-tiga.html' title='Menyembunyikan Maksud di Balik Tiga Lapis Sarung'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7855482594703232440</id><published>2010-03-07T09:00:00.000-08:00</published><updated>2010-03-07T09:06:29.898-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastera Bugis'/><title type='text'>Tentang Sastra Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S5Pc4wHLjoI/AAAAAAAACuY/5MLiHlfkCQc/s1600-h/ha1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 196px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S5Pc4wHLjoI/AAAAAAAACuY/5MLiHlfkCQc/s200/ha1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445939241966866050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam Adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat dengan pedang Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus Dengan segores kalam jadi tersarung  (&lt;a href="http://portalbugis.blogspot.com/2009/12/raja-ali-haji.html"&gt;Raja Ali Haji, &lt;/a&gt;dalam Mukaddimah Kitab Bustan al Katibin)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;      Fokus utama sajian ini adalah kearifan lokal dalam sastra Bugis klasik. Sastra Bugis klasik meliputi Sure Galigo, Lontarak, Paseng/Pappaseng Toriolota/ Ungkapan, dan Elong/syair. Sastra Bugis klasik, seperti Galigo (yang dikenal sebagai epik terpanjang di dunia), Lontarak, Paseng(pesan-Pesan), dan syair mengandung kearifan masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Kearifan lokal yang menjadi fokus utama meliputi bawaan hati yang baik, konsep pemerintahan yang baik (good governance), demokrasi, motivasi berprestasi, kesetiakawanan sosial, kepatutan, dan penegakan hukum. Kearifan itu memiliki kedudukan yang kuat dalam kepustakaan Bugis dan masih sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7855482594703232440?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7855482594703232440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/tentang-sastra-bugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7855482594703232440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7855482594703232440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/tentang-sastra-bugis.html' title='Tentang Sastra Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S5Pc4wHLjoI/AAAAAAAACuY/5MLiHlfkCQc/s72-c/ha1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7360953699962664821</id><published>2010-03-07T08:14:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T22:31:33.944-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wali Tujuh'/><title type='text'>Wali Tujuh dari Tanah Bugis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S5PVrK8E0RI/AAAAAAAACuI/luesJVWlXjI/s1600-h/Wali+Tujuh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S5PVrK8E0RI/AAAAAAAACuI/luesJVWlXjI/s320/Wali+Tujuh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445931312068481298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://portalbugis.wordpress.com/affiliate/login/syeikh-yusuf/"&gt;1)Syekh Yusuf &lt;/a&gt;(Toanta Salamaka), &lt;a href="http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/wali-tujuh-dari-tanah-bugis.html" style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;2) Petta Lasinrang&lt;/a&gt; (Petta Lolo), &lt;a href="http://telukbone.org"&gt;3). Arung Palakka &lt;/a&gt;(Petta to malampe'e gemmena), &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;4) KH. Harun&lt;/span&gt;, 5) Pettabarang, 6) Imam Lapeo, 7) Dt. Sangkala&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://bangsabugis.blogspot.com"&gt;Syekh Yusuf&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;(Toanta Salamaka)  Seorang Penyebar agama islam dari Tanah Mekkah sampai Banten, &lt;a href="http://telukbone.org"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Petta Lasinrang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; Seorang Raja dari Tanah Pinrang yang arif nan bijak sana dan gencar menyebarkan agama islam. yang terpenting Beliau Pemberani, &lt;a href="http://telukbone.blogspot.com"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Arung Palakka&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://telukbone.blogspot.com"&gt;.&lt;/a&gt; KH. Harun&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; :  Beliau berasal dari Kerajaan Tallo, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Petta Barang&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; atau Petta To Risappae konon beliau mallajang diatas kudanya dan penunggu kudanya hingga sekarang masih ada. beliau adalah keturunan raja Barru yang kuat akan agama,&lt;em&gt;&lt;strong&gt; Imam Lapeo&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; : seorang imam di Desa Lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama Islam sampai ketanah Bugis. sering memperlihatkan mukjisat dari Sang Kuasa, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dt. Sangkala&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; :Hingga saat ini belum ada info detail tentangnya. Merekalah ke tujuh wali yang diyakini oleh Masyarakat di Tana Bugis .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;       Selain itu terdapat beberapa wali lagi yang di yakini oleh masyarakat Indonesia yakni Wali songo, dan Wali Pitu yang berada di Bali yakni 1) &lt;em&gt;Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat di Kabupaten Badung), 2)Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi di Tabanan, 3) Chabib Ali Bin abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, 4) Chabib Ali Zaebal Abidin Al Idrus di Karangasem, 5) Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Magribi di Karangasem,  6) The Kwan Lie di Buleleng, dan 7) Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Seorang Raja Bone yang bisa membebaskan Masyarakat Bone dari penindasan kerajaan Gowa dan beliau di Juluki Sang Pembebas dengan gelar Pahlawan Kemanusiaan. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;            Mungkin  menjadi pertanyaan, bahwa apakah masyarakat Tana Bugis telah  memahaminya ? kalaupun belum, mungkin  di sebabkan karena kurangnya publikasi akan wali pitue selama ini ataukan memang mereka baru tahu kalau memang kebudayaan kita juga memiliki Wali Pitue ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Sumber : http://portalbugis.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/78/CE0812983EE083C0E59975FFC2F681F6.png" style="border: 0pt none ! important; background: none repeat scroll 0% 0% transparent;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7360953699962664821?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7360953699962664821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/wali-tujuh-dari-tanah-bugis.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7360953699962664821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7360953699962664821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/03/wali-tujuh-dari-tanah-bugis.html' title='Wali Tujuh dari Tanah Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S5PVrK8E0RI/AAAAAAAACuI/luesJVWlXjI/s72-c/Wali+Tujuh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-4649540902937605076</id><published>2010-02-27T06:23:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T21:55:25.872-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PRINSIP BUGIS'/><title type='text'>Prinsip Bangsa Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;   Prinsip Bangsa Bugis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1.Keturunan yang diajarkan bagaimana mempertahankan kehormatan keluarga.&lt;br /&gt;2.Keturunan yang dibesarkan dengan memandang perempuan sebagai simbol kehormatan&lt;br /&gt;  keluarga&lt;br /&gt;3.Keturunan yang diajarkan untuk menjaga martabat orang lain dan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;4. Keturunan yang diajarkan untuk tidak tunduk kepada orang lain.&lt;br /&gt;5.Keturunan yang ingin bebas merdeka berjuang dan berusaha untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;6.Keturunan yang berabad abad mentalnya telah dibentuk dan ditempa dengan keras oleh&lt;br /&gt;  gelombang&lt;br /&gt;7 Keturunan yang diajarkan berani menghadapi masalah dan tidak lari dari kenyataan hidup.dan&lt;br /&gt;8.Keturunan yang berani berbicara hanya jika ada bukti (&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Taro Ada Taro Gau&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt; (Teluk Bone)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-4649540902937605076?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/4649540902937605076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/prinsip-bangsa-bugis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4649540902937605076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4649540902937605076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/prinsip-bangsa-bugis.html' title='Prinsip Bangsa Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-1856246308166345226</id><published>2010-02-26T23:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T23:25:20.215-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU ULUMANDA'/><title type='text'>Asal Usul Suku Ulumanda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Suku Ulumanda masih termasuk rumpun Bugis yang berjumlah 31.000 jiwa berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Suku  ini merupakan salah satu anak suku Bungku. Mata pencaharian mereka  adalah petani. Daerah ini kaya dengan bahan baku mineral, pasir, karomit, rotan, dan kayu hitam dsbnya. Penduduk pesisir kebanyakan  lebih senang melaut, ini menjadi bagian dalam hidup mereka. Menurut informasi, belum ada pelayanan serius bagi suku ini. Baru saja seorang penduduk asli mengaku percaya kepada Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Hal ini tentu membesarkan hati kita, dan menuntut respon yang lebih besar di antara kita untuk menyerahkan diri dan dipakai oleh Dia untuk menjadi berkat bagi orang Ulumanda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-1856246308166345226?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/1856246308166345226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-ulumanda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1856246308166345226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1856246308166345226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-ulumanda.html' title='Asal Usul Suku Ulumanda'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7141403277189914200</id><published>2010-02-26T23:06:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T09:08:08.221-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU MAIWA'/><title type='text'>Asal Usul Suku Maiwa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SUKU MAIWA tinggal di dataran wilayah Enrekang &amp;amp; Sidenrang, propinsi SulSel. Orang Maiwa sangat mengutamakan keluarga &amp;amp; pola hidup gotong royong. Status sosial ditentukan oleh pendidikan atau kekayaan. Orang Maiwa sudah menjadi Muslim yg taat sejak abad ke- 17 namun kepercayaan animisme masih melekat kuat dalam kehidupan mereka sehari2. Terdapat 150 jiwa dari populasi 320,000 jiwa ini yg Kristen. (Sumber : wikipedia.org)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7141403277189914200?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7141403277189914200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-maiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7141403277189914200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7141403277189914200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-maiwa.html' title='Asal Usul Suku Maiwa'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-8544318567828426715</id><published>2010-02-26T23:00:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T23:01:16.337-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU BENTONG'/><title type='text'>Asal Usul Suku Bentong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Suku Bentong adalah sebuah suku yang berdiam di wilayah desa Bulo-Bulo, kecamatan Pujananting, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Nama suku Bentong diperoleh karena suku ini menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Barru sebagai komunitas Bugis, yaitu menggunakan perpaduan dari beberapa bahasa daerah yang ada di Sulawesi selatan yaitu Makassar, Konjo, Bugis dan Mandar. Bentong sendiri dalam bahasa Indonesia dapat diartikan "cadel".&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-8544318567828426715?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/8544318567828426715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-bentong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/8544318567828426715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/8544318567828426715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-bentong.html' title='Asal Usul Suku Bentong'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7374276372133472754</id><published>2010-02-26T22:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T22:55:54.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU ENREKANG'/><title type='text'>Asal Usul Suku Enrekang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Suku Enrekang masih berhubungan erat dengan Bugis . Pada umumnya berdomisili di Kabupaten Enrekang provinsi Sulsel. Sejak abad XIV, daerah ini disebut MASSENREMPULU yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedang sebutan Enrekang dari ENDEG yang artinya NAIK DARI atau PANJAT dan dari sinilah asal mulanya sebutan ENDEKAN. Masih ada arti versi lain yang dalam pengertian umum sampai saat ini bahkan dalam Adminsitrasi Pemerintahan telah dikenal dengan nama “ENREKANG” versi Bugis sehingga jika dikatakan bahwa Daerah Kabupaten Enrekang adalah daerah pegunungan, sudah mendekati kepastian sebab jelas bahwa Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit sambung menyambung mengambil ± 85 % dari seluruh luas wilayah yang luasnya ± 1.786.01 Km².&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;      Sebelum terbentuknya menjadi Kabupaten berturut-turut mengalami perubahan bentuk :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama : Menurut sejarah pada mulanya Kabupaten Enrekang adalah merupakan suatu kerajaan besar yang bernama MALEPONG BULAN, kemudian kerajaan ini bersifat MANURUNG yang terdiri dari 7 kawasann yang lebih dikenal dengan ”PITU MASSENREMPULU” yaitu : 1. Endekan 2. Kassa 3. Batu Lappa 4. Duri 5. Maiwa 6. Letta 7. Baringin ( 7 Massenrempulu ) ini terjadi kira-kira dalam abad ke XIV dan kerajaan tersebut berubah menjadi LIMA MASSENREMPULU yakni : 1. Endekan 2. Duri 3. Maiwa 4. Kassa5. Batu Lappa ( Kira – kira abad ke XVII )&lt;br /&gt;    Karena Politik Devide At Impera Pemerintah Belanda memecah daerah ini dengan adanya Surat Keputusan dari Perintah Kerajaan Belanda (KORTE VERKLARING ) dimana kerajaan KASSA dan kerajaan BATU LAPPA dimasukkan ke SAWITTO. Ini terjadi ± Tahun 1905 ( abad XX ), sehingga untuk tetap pada keadaan LIMA MASSENREMPULU tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang ada didalamnya dipecah sehingga menjadi :&lt;br /&gt;1. Kerajaan itu pada Zaman penjajahan Belanda secara Admisnitrasi Belanda menjadi Landshcap&lt;br /&gt;2.Tiap Landschap dipimpin oleh seorang Arung ( Zelftbesteur ) dan dibantu oleh SULEWATANG dan PABBICARA, ARUNG LILI tetapi kebijaksanaan tetap ditangan Belanda sebagai Kontroleur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Budaya MASSENREMPULU sebagai modal dasar pembangunan dalam melaksanakan otonomi daerah untuk mewujudkan predikat atau gelar yang pernah diberikan oleh raja-raja dari bugis yang diungkapkan dalam Bahasa Bugis bahwa :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;” NAIYYA ENREKANG TANA RIGALLA, LIPU RIONGKO TANA RIABBUSUNGI ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” NAIYYA TANAH MAKKA TANAH MAPACCING MASSENREMPULU ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” NAIYYA TANAH ENREKANG TANAH SALAMA ”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7374276372133472754?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7374276372133472754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-enrekang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7374276372133472754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7374276372133472754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-enrekang.html' title='Asal Usul Suku Enrekang'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7524527558431351229</id><published>2010-02-26T22:34:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T09:09:44.913-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU  LUWU'/><title type='text'>Asal Usul Suku Luwu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Perkataan “Luwu” atau “Luu” itu sebenarnya berarti “Laut”. Luwu adalah suku bangsa yang besar yang terdiri dari 12 anak suku. Walaupun orang sering mengatakan bahwa Luwu termasuk suku Bugis, tetapi orang-orang Luwu itu sendiri menyatakan mereka bukan suku Bugis, tetapi suku Luwu. Sesuai dengan pemberitaan lontara Pammana yang mengisahkan pembentukan suku Ugi’ (Bugis) di daerah Cina Rilau dan Cina Riaja, yang keduanya disebut pula Tana Ugi’ ialah orang-orang Luwu yang bermigrasi ke daerah yang sekarang disebut Tana Bone dan Tana Wajo dan membentuk sebuah kerajaan. Mereka menamakan dirinya Ugi’ yang diambil dari akhir kata nama rajanya bernama La Sattumpugi yang merupakan sepupu dua kali dari Sawerigading dan juga suami dari We Tenriabeng, saudara kembar dari Sawerigading.&lt;br /&gt;    Kerajaan Luwu diperkirakan berdiri sekitar abad X yang dibangun oleh, sekaligus sebagai raja pertama adalah Batara Guru (Tomanurung) yang dipercaya turun dari langit diutus oleh ayahnya Dewa Patoto’e untuk turun mengisi kekosongan di dunia tengah. Beliau turun tepat di daerah Ussu, kecamatan Malili, kabupaten Luwu Timur lalu dikawinkan dengan We Nyili Timo’ sepupu satu kalinya yang berasal dari dunia bawah, sehingga lahirlah beberapa keturunan. Setelah dunia tengah sudah banyak penghuninya dan kehidupan di dalamnya sudah berjalan baik, maka kembalilah Batara Guru ke atas langit.&lt;br /&gt;     Kerajaan Luwu merupakan kerajaan paling sepuh diantara beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan karena asal-usul setiap raja di Sulawesi Selatan berasal dari Luwu. Seperi dalam kerajaan Gowa, mereka meyakini bahwa raja pertama mereka mempunyai asal-usul dari kerajaan Luwu begitu halnya dengan kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dan bahkan di Pulau Sulawesi serta sebagian Kalimantan. Oleh sebab itu, Luwu sangat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;     Pusat kerajaan Luwu (Ware’) pertama adalah di daerah Ussu. Ussu terkenal akan hasil alamnya berupa besi dan pelabuhannya yang terletak di muara sungai Cerekang , dan diyakini kalau besi-besi yang ada di Jawa untuk dipakai membuat keris pada zaman itu berasal dari Luwu. Hal ini bisa di benarkan karena dulunya Luwu sudah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Sulawesi dan hal ini dapat dibuktikan dengan tercantumnya nama kerajaan Luwu dalam kitab Negarakertagama milik kerajaan Majapahit. Kerajaan Luwu juga dikenal dengan hasil karya sastranya, yaitu I La Galigo. I La Galigo merupakan karya sastra terbesar dan terpanjang di dunia mengalahkan Mahabrata yang berasal dari India yang ditulis sekitar abad 14 lalu disalin ulang lagi oleh Colli’ Puji’e Arung Pancana Toa sebanyak 12 jilid yang kini tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda.&lt;br /&gt;     Pusat kerajaan Luwu (Ware’) yang terakhir adalah Palopo. Pemindahan Ware’ ini (Ware’ sebelumnya Malangke) karena letak Palopo yang strategis di pinggir Teluk Bone sehingga memudahkan untuk menjalin hubungan dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan melalui laut. Pemindahan Ware’ ini dilakukan pada masa Pajung / Datu Luwu ke- 15, yaitu Andi Pattiware’ Daeng Parabung pada abad ke XV awal masuknya Islam ke Tana Luwu.&lt;br /&gt;     Raja terakhir dari kerajaan Luwu adalah Andi Djemma yang bergelar Petta Matinro’e ri Amaradekanna yang memerintah mulai tahun 1935-1965 Masehi. Beliau merupakan raja yang sangat dikagumi dan dibangga-banggakan oleh rakyatnya bahkan raja-raja lain di Sulawesi Selatan karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Beliau rela mati dan meninggalkan seluruh harta dan kekuasaannya untuk mempertahahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Karena itulah beliau diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat sekitar tahun 2003, dimana beliau merupakan satu-satunya raja Luwu dari sekian raja Luwu yang memerintah ketika Belanda datang menjajah negara kita yang memperoleh gelar kehormatan tersebut.&lt;br /&gt;     Sebelum agama Islam masuk ke Tana Luwu, masyarakat mulanya menganut Animisme. Setelah sepuluh abad lebih berdiri, kerajaan Luwu baru menerima agama Islam sekitar abad ke-15, yaitu pada tahun !593. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal-hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di desa Lapandoso, kecamatan Bua, kabupaten Luwu.&lt;br /&gt;     Setelah sampai, Datu Sulaiman lalu dipertemukan dengan Tandipau (Maddikka Bua saat itu). Sebelum menerima agama yang dibawa oleh kedua Datu itu, Tandipau terlebih dahulu menantang Datu Sulaiman. Tantangan itu adalah Tandipau akan menyusun telur sampai beberapa tingkat, apabila Datu Sulaiman mengambil telur yang ada di tengah-tengah tetapi telur itu tidak jatuh atau bergeser sedikitpun, maka Tandipau akan mengakui ajaran agama Islam yang dibawa oleh Datu Sulaiman. Tandipau berani disyahadatkan asalkan tidak diketahui oleh Datu’ karena ia takut durhaka bila mendahului Datu’. Sebelum ke Malangke (Ware’) untuk menghadap Datu’, ke dua Dato’ itu terlebih dahulu membangun sebuah masjid di Bua tepatnya di desa Tana Rigella yang dibangun sekitar tahun 1594 Masehi yang merupakan masjid tertua di Sulawei Selatan. Masjid ini pernah dimasuki oleh tentara NICA pada zaman penjajahan lalu menginjak dan merobek-robek Al-Qur’an yang ada di dalam masjid. Hal inilah yang memicu kemarahan rakyat Luwu lalu terjadilah perang semesta rakyat Luwu pada tanggal 23 Januari 1946 yang selalu diperingati oleh masyarakat Luwu setiap tahunnya.&lt;br /&gt;     Setelah membuat masjid di Bua, Dato’ Sulaiman lalu diantar ke Ware’ (Malangke) untuk menemui Datu’ Pattiware’. Setelah terjadi dialog siang dan malam antara Datu’ dengan Dato’ Sulaiman mengenai ajaran agama yang dibawanya, maka Datu’ Pattiware’ pun bersedia diislamkan bersama seisi istana. Pada Waktu itu Pattiware’ sudah memiliki tiga orang anak, yaitu Pattiaraja (12 tahun), Pattipasaung (10 tahun, yang kemudian menjadi Pajung / Datu Luwu ke 16 menggantikan ayahnya) dan Karaeng Baineya (3 tahun), serta adik iparnya Tepu Karaeng (25 tahun). Islam lalu dijadikan sebagai agama kerajaan dan dijadikan pula sebagai sumber hukum. Walaupun sudah dijadikan sebagai agama kerajaann, penduduk yang jauh dari Ware’ dan Bua masih tetap menganut kepercayaan Sawerigading. Mereka mengatakan bahwa ajaran Sawerigading lebih unggul dibanding ajaran agama yang daibawa oleh Dato’ tersebut.&lt;br /&gt;     Setelah berhasil mengislamkan Datu’ Pattiware’, Dato’ ri Bandang atau Khatib Bungsu lalu pergi untuk menyebarkan Islam didaerah lain di Sulawesi Selatan. Sedangkan Dato’ Sulaiman tetap tinggal di Luwu agar bisa mengislamkan seluruh rakyat Luwu karena hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Beliau lalu wafat dan dikuburkan di Malangke, tepatnya di daerah Pattimang, dan ia pun diberi gelar Dato’ Pattimang.&lt;br /&gt;     Saat pusat kerajaan Luwu (Ware’) dipindahkan dari Malangke ke Palopo, Andi Pattiware’ yang bergelar Petta Matinro’e ri Pattimang (1587-1615 M) Datu’ pada zaman itu, memerintahkan untuk membuat suatu masjid yang dapat digunakan oleh masyarakat Palopo untuk menunaikan Shalat secara berjamaah yang letaknya tidaklah jauh dari “Salassae” istana Luwu. Masjid itu sendiri dibuat oleh Pong Mante pada tahun 1604 Masehi dimana makamnya terdapat dalam masjid Djami itu sendiri, tepatnya di bawah mimbar yang besar. Konon batu yang dipakai untuk membangun masjid itu dibawa dari Toraja dengan cara orang-orang berjejer dari Toraja sampai ke Palopo lalu batu-batu itu dioper satu per satu. Sedangkan bahan yang dipakai untuk merekatkan batu yang satu dengan yang lainnya adalah putih telur yang diambil dari kecamatan Walenrang, kabupaten Luwu.&lt;br /&gt;     Nama Palopo itu sendiri yang sudah lama kita kenal berasal dari kata “Pallopo’ni” yang diucapkan oleh orang-orang saat ingin menancapkan tiang masjid yang besar. Panjang tiang utama masjid ini sekitar 16 meter dan kayu yang dipakai adalah kayu Cina Guri, namun sekarang kayu jenis ini sudh tidak ada lagi. Konon kayu jenis Cina Guri ini dikutuk sehingga sekarang hanya menjadi rerumputan kecil yang biasa diberikan pada ternak sebagai makanan. Arti kata “Pallopo’” yang secara bebas berarti “masukkan dengan tepat”. Menurut kepercayaan masyarakat, seseorang belum bisa dikatakan menginjak Palopo jika ia belum pernah masuk ke dalam Masjid Djami.&lt;br /&gt;     Setelah empat abad lebih, bangunan masjid Jami’ masih utuh dan tetap terawat dengan baik sehingga pada tahun 2002 yang lalu Masjid Djami’ Palopo memperoleh penghargaan sebagai Masjid Tua terbaik se-Indonesia mengalahkan ribuan masjid tua lainnya di Nusantara. Setelah berkembang selama kurang lebih empat abad, agama Islam kini menjadi agama yang mayoritas dianut oleh warga Tana Luwu dan Sulawesi Selatan pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Pustaka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anton Andi Pangerang… (et al). 2002. Andi Djemma-Datu Luwu, Tahta Bagi Republik. Yayasan Bina Profesi dan Wirausaha (BENUA) : Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Salim, Muhammad…(et al). 2003. La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora : Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber : wikipedia.org)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7524527558431351229?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7524527558431351229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-luwu.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7524527558431351229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7524527558431351229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-luwu.html' title='Asal Usul Suku Luwu'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-1216971453136149992</id><published>2010-02-26T22:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T22:22:18.571-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU CAMPALAGIAN'/><title type='text'>Asal Usul Suku Campalagian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Suku Campalagian pada umumnya tinggal di kota Polmas, Campalagian; di propinsi Sulbar Umumnya mereka tinggal di daerah dataran rendah yg subur. Adat budaya mereka sangat dipengaruhi oleh suku Toraja dan suku Bugis sehingga terdapat banyak kemiripan dalam bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Mayoritas mereka beragama Islam dan berbagai unsur agama ini terpadu dengan baik &amp;amp; sulit&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dipisahkan dari adat istiadat mereka. Namun demikian animisme – pemujaan kepada roh2 &amp;amp; dukun masih mendapat tempat &amp;amp; kepercayaan dalam suku ini walaupun lambat laun semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-1216971453136149992?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/1216971453136149992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-campalagian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1216971453136149992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1216971453136149992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-campalagian.html' title='Asal Usul Suku Campalagian'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-5357349574911447250</id><published>2010-02-26T21:56:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T22:05:25.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU KONJO'/><title type='text'>Asal Usul Suku Konjo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Suku Konjo sebagian besar tinggal di Kabupaten Bulukumba, kurang lebih 209 km dari Kota Makassar, Propinsi Sulawesi Selatan. Suku Konjo mendiami 4 Kecamatan (Kecamatan Bontotiro, Kecamatan Kajang, Kecamatan Bontobahari dan Kecamatan Herlang), yang kesemuanya berada di wilayah bagian Timur Kabupaten Bulukumba.&lt;br /&gt;      Orang Konjo membangun kapal layar pinisi yang biasanya dikira dibuat oleh suku Bugis dan suku Makassar. Nama lain suku ini adalah Kajang - merupakan perkampungan tradisional khas suku Konjo. Di daerah ini terdapat hutan lindung yang memasuki tempat sakral ini, para pelancong atau pendatang yang akan masuk ke wilayah ini harus memakai pakaian serba hitam. Selain di Bulukumba Suku Konjo juga mendiami wilayah Kabupaten Sinjai (yang berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba bagian Utara) dan Kabupaten Barru (beberapa Desa di Kecamatan Pujananting).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SUKU KONJO PESISIR DI SULAWESI SELATAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suku Konjo Pesisir (atau disebut juga Kondjo, Tiro) mendiami empat kecamatan di sebelah Tenggara dari wilayah Bulukumba-Kijang, Herkang, Bonto, Tito dan Bonto Bahari. Suku Konjo hitam, yang juga termasuk suku ini menempati daerah sebelah barat dari Kajang. Mereka memilih tetap mempertahankan cara hidup lama, seperti memakai pakaian hitam, tidak mengijinkan penggunaan peralatan, dan mempraktekkan ilmu sihir yang adalah bagian dari penyembahan animistik mereka. Orang Konjo Hitam menganggap diri mereka suku asli yang tidak mempunyai raja dan tidak mengikuti sistim pelapisan masyarakat seperti yang terdapat di&lt;br /&gt;daerah Konjo lainnya, mereka menganggap daerah mereka sebagai pusat tradisional bagi semua suku Ponjo Pesisir. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Konjo Pesisir dengan beberapa dialek yaitu Tana Toa,Konjo Hitam dan Kajang.&lt;br /&gt;      Suku Konjo Pesisir bercocok tanam dengan sistem bagi hasil. Rumah- rumah suku Konjo terdapat di sepanjang jalan-jalan utama, dan di daerah pedesaan. Komunitas mereka terbagi sesuai dengan garis-garis politik sampai dengan tingkat RT, yang terdiri dari 10 rumah tangga. Desa biasanya mengikuti batas-batas kerajaan/keluarga lama.&lt;br /&gt;      Sama seperti suku Konjo Pegunungan, suku Konjo Pesisir juga memiliki ciri-ciri budaya sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Saling membantu dalam pekerjaan dan keuangan, upacara perkawinan,&lt;br /&gt;    menjenguk orang sakit, melayat orang meninggal. Sekalipun di antara&lt;br /&gt;    anggota suku ini ada pertengkaran, mereka bersatu menghadapi&lt;br /&gt;    ancaman dari pihak luar.&lt;br /&gt;2. Materialisme diwujudkan dengan meminta secara terus terang kepada&lt;br /&gt;    orang yang tidak takut bersaing mengumpulkan harta dan pemborosan&lt;br /&gt;    agar orang lain terkesan.&lt;br /&gt;3. Kegemaran kumpul-kumpul dan mengobrol.&lt;br /&gt;4. Cenderung berkelit dalam menjawab pertanyaan.&lt;br /&gt;5. Mempertahankan harga diri, dengan mempertahankan status sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi suku Konjo 125.000 jiwa. Telah ada 5 orang yang percaya Yesus, belum ada Film Yesus dan pelayanan radio dalam bahasa Konjo. Alkitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Konjo belum lengkap. Masyarakat Konjo pesisir 100% beragama Islam. Bahkan bagi orang Konjo&lt;br /&gt;Hitam, Islam merupakan agama resmi mereka. Walau demikian praktek animisme masih dipertahankan. Pemimpin agama Islam hanya memiliki sedikit pengaruh. Mereka dipilih oleh rakyat untuk memimpin upacara- upacara keagamaan dan tugas-tugas di masjid. Orang Konjo Hitam memanggil dukun untuk upacara-upacara dan menolong orang sakit. Amma Toa (ayah tua) dari orang Konjo Hitam dianggap sebagai pemimpin keagamaan di daerah itu dan ditakuti karena kekuatan sihirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok Doa Suku Konjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berdoa agar Tuhan menyatakan kemuliaanNya, dalam kehidupan orang  Konjo. Berdoa agar  Gereja Tuhan berkomitmen untuk mendoakan, mengutus utusan Injil dan mendanai pelayanan bagi suku Konjo.&lt;br /&gt;* Lakukanlah doa peperangan rohani terhadap semua bentuk penyembahan  berhala dan kuasa kegelapan yang mengikat dan membutakan mata rohani orang Konjo (1Yohanes 4:4). Berdoa agar orang Kristen Konjo berakar  dalam Firman Tuhan, bertumbuh dan memberi buah yang lebat. Berdoa  supaya diadakan pemuridan bagi orang Konjo Kristen.&lt;br /&gt;* Berdoa agar Utusan Injil menjadi kreatif dan mudah beradaptasi, baik bahasa, budaya, dan lainnya. Berdoa untuk perlindungan dan ketajaman rohani dari orang percaya yang tinggal dan melayani suku Konjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Teluk Bone)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-5357349574911447250?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/5357349574911447250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-konjo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5357349574911447250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/5357349574911447250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-konjo.html' title='Asal Usul Suku Konjo'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-4393021732480464373</id><published>2010-02-26T21:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T21:50:29.258-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU BAJO'/><title type='text'>Asal Usul Suku Bajo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Suku Bajo dikenal dengan nama SAMA. Mereka menyebar di Lima Benua Suku Bajo adalah pelaut tangguh. Laut adalah hidupnya. Mereka memilih hidup di pulau-pulau di tengah lautan dari pada harus bersosialisasi di darat. Julukan mereka manusia perahu.&lt;br /&gt;Tidak heran bila Suku Bajo sering diidentikkan dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Pendidikan belum dipandang sebagai prioritas hidup. Abdul Manan, sang Presiden Suku Bajo Indonesia, menuturkan betapa sulitnya Suku Bajo menghadapi kehidupan sosial.&lt;br /&gt;     Suku Bajo mampu bertahan dengan kerasnya hidup di lautan dengan menjadi nelayan, kata Abdul Manan yang juga Kepala Bappeda Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).&lt;br /&gt;Pulau Sama Bahari, pulau yang dihuni 364 keluarga Suku Bajo cukup menggambarkan bentuk kehidupan mereka. Di Pulau Karang yang terletak di antara gugusan pulau-pulau di Sultra, terlihat rumah-rumah penduduk terbuat dari bambu. Kemiskinan suku Bajo terpancar nyata. Penduduk di sana hanya bekerja sebagai nelayan tradisional.&lt;br /&gt;Dari segi pendidikan pun tertinggal jauh. Di Pulau Sama Bahari, hanya berdiri satu sekolah dasar. Kalau hendak masuk ke sekolah lanjutan, harus menyeberang ke pulau terdekat.&lt;br /&gt;Ia mengakui sulitnya Suku Bajo untuk maju disebabkan tradisi sebagai nelayan turun-temurun sangat kuat. Dalam suku ini, nelayan adalah pekerjaan satu-satunya. Itu membuat mereka cenderung tidak ingin keluar dari komunitas yang sudah terbangun sejak lama. Anak-anak Suku Bajo memang tidak didorong bersekolah oleh orang tuanya, sehingga mereka sangat tertinggal,  kata pria berusia 46 tahun ini.&lt;br /&gt;     Inilah kegelisahan Abdul Manan. Namun, realitas itu tidak ingin dibiarkan berlarut. Presiden Suku Bajo ini mengimpikan suatu saat Suku Bajo maju secara ekonomi dan pendidikan.&lt;br /&gt;Salah satunya yang didorong adalah membangun sekolah lebih banyak untuk membantu anak-anak Suku Bajo. Hal itu sudah diwujudkan dengan membangun khusus sekolah di Kendari yang memberikan kesempatan bagi anak Suku Bajo bersekolah gratis. Di Pulau-pulau yang dihuni Suku Bajo juga diberikan sistem Kejar Paket untuk yang pendidikannya tertinggal.&lt;br /&gt;Tingkat partisipasi sekolah di Sultra 64 persen, namun Suku Bajo cuma mencapai 0,5 persen. Kita tidak ingin muluk-muluk, mencapai satu persen saja sudah bagus, katanya.&lt;br /&gt;     Keinginan Abdul Manan memajukan suku Bajo sangat kuat. Ia kemudian menjalin hubungan dengan Suku-Suku Bajo yang terpencar di tiga negara lainnya, Malaysia, Thailand, dan Filipina dengan membentuk The Bajau International Communities Confederation (BICC). Untuk memajukan Suku Bajo di Indonesia, ia harus mendapatkan bantuan dari Suku Bajo di negara lain yang lebih maju. Keeratan Suku Bajo empat negara ini tidak terlepas dari asal-usul etnik ini. Abdul Manan menjelaskandalam salah satu versi disebutkan Suku Bajo berasal dari Johor, Malaysia yang terdampar di Sulawesi Selatan saat melaut. Itu sebabnya di daerah pesisir Bone, Sulawesi Selatan, terdapat Desa BajoE Kecamatan Tanete Riattang timur Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;     Tapi ada juga versi lain yang berkembang yang menyebutkan Suku Bajo berasal dari Palopo, Sulawesi kemudian berkembang hingga keseluruh tanah air. Di Indonesia suku Bajo selain di Sulawesi Selatan ada juga di Flores, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Kalimantan, Sumatera, dan Gorontalo. Meski demikian, lebih banyak yang menerima versi asal-usul suku Bajo dari Johor. Hal itu juga melihat keberadaan suku Bajo di Malaysia yang berkembang luas.&lt;br /&gt;     Menyadari bukan suku yang berasal dari satu negara, Suku Bajo sepakat mengklaim sebagai suku dunia. Suku Bajo sudah mencatatkan diri mereka sebagai putra dunia di UNESCO, PBB. “Kita bukan suku milik suatu negara, tuturnya. Pembentukan BICC diupayakan untuk membantu kesejahteraan Duku Bajo secara ekonomi, memajukan pendidikan serta melestarikan budaya. BICC harus bisa memberi beasiswa kepada anak-anak Suku Bajo, katanya.&lt;br /&gt;BICC diketuai salah satu anggota Parlemen Sabah, Datuk Sri Saleh Keruak yang juga merupakan anak Suku Bajo. Dibandingkan empat negara itu, Abdul Manan mengatakan Suku Bajo di Indonesia paling tertinggal. Di Malaysia, meski juga nelayan tapi bukan lagi nelayan tradisional. Di sana nelayannya maju. Phuket tempat wisata terkenal di Thailand adalah salah satu bisnis Suku Bajo.&lt;br /&gt;     Tekadnya kuat, Suku Bajo di Indonesia harus bisa sebanding dengan Suku Bajo di negara lain. Perlu dipahami, bahwa Suku Bajo adalah suku pengembara laut. Pada awalnyanya mereka hidup diatas perahu, berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Meski saat ini banyak warga suku Bajo yang tinggal di daratan, kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan dari laut. Di Indonesia, permukiman suku Bajo dapat ditemukan di beberapa daerah. Suku Bajo di pulau Lombok ditemukan disebuah kampung di kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur sedangkan di Pulau Sumbawa, mereka dapat dijumpai di Pulau Moyo dan sekitarnya, serta kawasan Bima di sebelah Timur Sumbawa. Di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur terdapat kota bernama Labuhan Bajo salah satu tempat orang bajo yang dapat dijumpai sepanjang pesisir Kabupaten Manggarai Barat hingga Flores Timur. Di Sulawesi, suku bajo menyebar di beberapa propinsi yaitu Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara serta Sulawesi Selatan. Di Gorontalo, suku Bajo terdapat di sepanjang pesisir teluk tomini yaitu di Torosiaje, Kabupaten Pohuwato dan di Tanjung Bajo, Kabupaten Bualemo.&lt;br /&gt;     Dibandingkan dengan permukiman suku Bajo di daerah lain, permukiman suku Bajo di Torosiaje memiliki keunikan tersendiri yaitu permukiman tersebut dibangun di atas laut yang benar-benar terpisah dari daratan. Torosiaje terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, kurang lebih 300 km ke arah barat kota Gorontalo. Terdapat jalan darat relatif mulus yang menghubungkan Kota Gorontalo dengan Desa Torosiaje. Ada dua perkampungan suku Bajo di Torosiaje. Pertama yaitu perkampungan suku Bajo di Torosiaje Jaya yang terletak di daratan, dan yang kedua perkampungan suku Bajo yang terletak di atas laut yaitu Desa Torosiaje laut.&lt;br /&gt;    Perkampungan suku Bajo di Torosiaje memiliki bentuk menyerupai huruf U yang terbuka ke arah laut, yang dapat dicapai dari dermaga penyeberangan di Desa Torosiaje Jaya dengan menggunakan perahu selama kurang lebih 15 menit. Cikal bakal perkampungan Suku Bajo di Torosiaje telah dimulai sejak tahun 1901. Pada awalnya mereka adalah sekumpulan pengembara yang tinggal di atas rumah perahu atau Soppe. Karena timbul keinginan untuk menetap akhirnya mereka membangun rumah panggung dari kayu di atas laut. Seiring dengan berjalannya waktu, populasi orang Bajo di Torosiaje semakin meningkat. Saat ini Desa Torosiaje laut memiliki jumlah penduduk mencapai 1027 jiwa.&lt;br /&gt;      Sebagai sebuah wilayah perkampungan, perkampungan suku Bajo di Torosiaje laut memiliki fasilitas cukup lengkap meski letaknya di laut. Di wilayah perkampungan tersebut terdapat klinik pengobatan, masjid, taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan gedung serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai lapangan bulu tangkis. Jadi bukan hanya mereka yang tinggal di darat saja yang bisa bermain bulu tangkis, mereka yang tinggal di laut pun bisa memainkan olah raga ini. Meski tidak begitu nyaman tentunya karena menimbulkan suara berdebam yang cukup keras pada lantai papan. Antar rumah warga di perkampungan ini dihubungkan dengan jembatan kayu, yang di beberapa tempat dilengkapi pula dengan atap.&lt;br /&gt;    Perkampungan suku Bajo Torosiaje laut ini menawarkan panorama indah. Matahari terbit dan tenggelam yang menimbulkan warna jingga di langit dapat disaksikan dengan indahnya. Perairan di sekitar perkampungan ini juga sangat jenih. Maka tidak heran jika kita dapat dengan mudah melihat ikan-ikan yang berwarna-warni berseliweran dengan indahnya tanpa harus menyelam. Bagi penggemar memancing, perairan di sekitar perkampungan suku Bajo Torosiaje merupakan surga. Ikan baronang yang seolah-olah menawarkan diri tampak jelas berenang-renang disekitar tiang-tiang penyangga rumah. Hanya dengan umpan secuil pisang, ikan bisa dengan sangat mudah didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Sebagai desa wisata, perkampungan suku Bajo juga dilengkapi dengan fasilitas penginapan. Ada dua penginapan di perkampungan ini. Satu buah penginapan dibangun oleh Dinas Pariwisata, dan satu lagi milik perseorangan. Pada waktu-waktu tertentu seperti hari raya ketupat, yaitu tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri, disini diadakan perayaan dengan aneka perlombaan yang digelar. Jadi, tunggu apalagi untuk berkunjung ke Torosiaje?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Teluk Bone)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-4393021732480464373?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/4393021732480464373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-bajo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4393021732480464373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4393021732480464373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-usul-suku-bajo.html' title='Asal Usul Suku Bajo'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-8098422402546757312</id><published>2010-02-26T11:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T11:08:09.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Leluhur Bugis Orang Nias ?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang anak raja Pagarruyung bernama Turanggo berlayar menuju negeri Bugis mencari isteri. Setelah berhasil mengawini puteri raja Bugis dari suku Bengguan, dia kembali ke Pagarruyung. Namun terjadi angin-ribut, mereka terdampar di Luaha Sebua, muara sungai di suatu pulau kosong. Pulau itu kemudian dinamakan Tanah Hibala yang artinya ‘tanah yang kuat’ dalam bahasa Bugis. Turanggo akhirnya menetap di pulau itu, dia beranak-pinak hingga pada raja Hibala yang memiliki dua anak, puteri (kakak) dan putera (adik).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian inti pembuka cerita berjudul Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu karya Adlan Mufti (1979). Mufti memperoleh keterangan dari Dahar Alamsyah di pulau Tello tahun 1974. Waktu itu Alamsyah berumur 60 tahun. Dia adalah keturunan raja Buluaro dari suku Bengguan (Bekhua). Mufti memperkirakan legenda ini terjadi sekitar abad 12.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya diceritakan, semenjak lahir kedua anak raja Hibala hidup terpisah. Sang puteri (tidak diketahui namanya) tinggal di rumah bagian atas yang dinamakan mahligai, diasuh wanita pengasuh bernama Sikambang, sedang sang putera bernama Sutan Muaro tinggal bersama orang-tuanya di rumah bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah meningkat dewasa, ketika Sutan Muaro bermain-main di halaman rumah, tanpa sengaja dia melihat sang puteri raja itu. Seketika Sutan Muaro terpesona melihat kecantikan sang puteri. Bergegas dia menemui ibunya, mengatakan bahwa ada seorang wanita cantik di rumah mereka. Namun ibunya membantah. Sutan Muaro mencari-cari wanita itu, dia naik ke mahligai dan bertemu dengannya di sana. Dia menemui ibunya lagi, mengatakan bahwa wanita itu ada di mahligai. Sutan Muaro mendesak ibunya agar wanita itu dapat dijadikan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat tekad Sutan Muaro, barulah ibunya mengakui bahwa wanita itu adalah kakaknya sendiri, tidak mungkin dapat dikawininya. Namun Sutan Muaro tidak menerima keterangan ibunya. Selama ini dia tidak diberi-tahu wanita itu kakaknya dan belum pernah bergaul selayaknya kakak-adik. Dia tetap mendesak agar wanita itu dapat dikawininya. Akhirnya hal ini dilaporkan kepada raja. Raja Hibala terpaksa mengundang rakyatnya rapat. Sudah terang hadirin rapat tidak menyetujui hasrat Sutan Muaro, belum pernah terjadi dua orang bersaudara kandung dikawinkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba sang kakak turun dari mahligai dan berkata, “Adik Sutan Muaro! Di negeri Bugis ada anak paman kita seorang wanita yang serupa sekali bentuk wajahnya dengan saya, seperti pinang dibelah dua. Pergilah adik ke negeri Bugis untuk menjumpainya, dan lihatlah mukanya. Ambillah rambut saya dan cincin saya ini. Sekiranya nanti mukanya tidak serupa dengan muka saya, rambutnya tidak sebagaimana rambut saya, dan cincin ini tidak sesuai di jarinya, maka kembalilah kau ke Tanah Hibala, dan kawinilah saya menjadi isterimu!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka berangkatlah Sutan Muaro ke negeri Bugis. Setelah berlayar sekitar setahun, dia sampai di negeri pamannya itu. Namun betapa terkejut hati Sutan Muaro, karena puteri raja Bugis (pamannya) baru saja ditunangankan dengan anak raja Bayo. Dia tinggal di negeri pamannya beberapa lama. Mudahlah baginya berkenalan dengan puteri pamannya. Puteri itu cantik nian, mirip kakaknya, dia jatuh cinta. Beruntung Sutan Muaro, dia tidak bertepuk sebelah tangan, puteri pamannya membalas cintanya. Maka pada suatu malam diam-diam dua insan yang saling mencinta ini, Sutan Muaro dan puteri pamannya, berlayar menuju Tanah Hibala. Namun mereka dikejar armada raja Bugis dan anak raja Bayo. Dalam sekitar setahun pengejaran menuju Tanah Hibala itu Tuan Puteri melahirkan anak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dekat pulau Tanah Hibala perahu Sutan Muaro terkepung dan terpaksa bertempur melawan armada pengejar. Dada Sutan Muaro tertembus anak panah yang dilepas anak raja Bayo. Dalam keadaan terdesak kalah, Tuan Puteri (istri Sutan Muaro) mengirim anaknya kepada sang kakek (raja Hibala) lewat seorang awak perahu. Setelah itu Tuan Puteri memohon, “Sekiranya saya memang manusia yang berasal dari orang bangsawan, mempunyai derajad yang agung dari orang biasa, jadikanlah seluruh perahu-perahu di tempat ini menjadi batu”. Sejenak kemudian seluruh perahu di kawasan itu berubah menjadi batu, dan selanjutnya menjelma menjadi pulau-pulau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Perahu yang ditempati tuan puteri dan suaminya Sutan Muaro menjadi pulau Batu. Perahu yang ditempati ayah Tuan Puteri menjadi pulau Lorang. Perahu yang ditempati anak raja Bayo menjadi pulau Tello. Perahu yang membawa perbekalan armada Bugis menjadi pulau Biang. Dan pulau Mamole, konon berasal dari perahu kiriman raja Hibala yang membawa perbekalan untuk anaknya Sutan Muaro yang terkepung. Itulah riwayat terjadinya pulau-pulau yang namanya berasal dari bahasa Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen Bugis&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang pernah terjadi, bersifat keduniawian, terjadi pada masa belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda sering dipandang sebagai folk history (sejarah kolektif), walaupun sejarah itu mengalami distorsi karena tidak tertulis (Danandjaja, 1984: 66).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkiraan Mufti bahwa legenda di atas terjadi sekitar abad 12 misalnya, tidak sesuai fakta sejarah. Kerajaan Pagarruyung didirikan oleh Adityawarman tahun 1339 (Parlindungan, 2007: 120; Muljana, 2007: 16). Kerajaan ini berpengaruh hingga tahun 1804 (Parlindungan, 2007: 510). Dengan demikian, anak raja Pagarruyung bernama Turanggo yang disebut dalam legenda di atas hidup pada abad 14 atau setelahnya. Legenda itu tentulah terjadi atau diciptakan setelah abad 14.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Hämmerle (2004), sekitar 250 tahun yang lalu orang Bugis berlabuh di pulau Simeulue, Nias, dan kepulauan Batu. Di mana mereka mendapat pulau kosong, di situ mereka memberi nama pulau bersangkutan. Keterangan ini selaras dengan isi legenda asal-mula pulau-pulau Batu. Selain itu, keterangan ini menunjukkan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18 (sekitar tahun 1750), suatu rentang waktu yang relatif jauh dibanding abad 12 sebagaimana perkiraan Mufti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di lain pihak, tahun 1811 Marsden melaporkan perihal kampung Buluaro yang terletak di tengah pulau Batu. Penghuni kampung ini mayoritas orang Nias, namun ada juga ras yang mirip orang Makassar atau Bugis yang berjumlah tidak melebihi seratus orang. Marsden juga melaporkan cerita kapal (perahu) yang menjelma menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Upon the same authority also we are told that the island derives its name of Batu from a large rock resembling the hull of a vessel, which tradition states to be a petrifaction of that in which the Buluaro people arrived.” [Dari sumber yang sama juga diceritakan kepada kita bahwa pulau itu mengambil nama Batu dari sebuah batu besar yang menyerupai lambung kapal, yang menurut tradisi adalah kapal yang menjadi batu yang digunakan oleh orang-orang Buluaro tiba.]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Laporan Marsden mengindikasikan cerita bermotif ‘perahu yang menjelma menjadi batu’ telah beredar sekitar awal abad 19. Dikaitkan dengan kedatangan orang Bugis di kepulauan Batu pada abad 18, dapat diperkirakan legenda asal-mula pulau-pulau Batu diciptakan dalam rentang waktu akhir abad 18 hingga awal abad 19 (sekitar 8-9 generasi yang lalu).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dapat pula diketahui, mengacu keterangan Dahar Alamsyah (informan Mufti) dan laporan Marsden, kolektif (masyarakat) pendukung legenda ini adalah masyarakat tradisional di kawasan kepulauan Batu. Masyarakat tersebut, khususnya di kampung Buluaro, berhasil menciptakan sebuah folklor berbentuk legenda yang eksplisit berisi elemen Bugis. Meski mengandung unsur pralogis, ‘perahu ajaib’ yang berubah menjadi batu atau pulau misalnya, legenda ini dapat dianggap sebagai ‘saksi sejarah’ kedatangan orang Bugis di kawasan kepulauan Batu pada abad 18.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Folklor (legenda) seperti ini tidak, atau setidaknya belum, ditemukan di kawasan kepulauan Hinako. Menurut kalangan peneliti, sebagian orang Nias di pulau Hinako dan sekitarnya juga memiliki leluhur yang berasal dari Sulawesi (Marsden, 1811; Fries, 1919: 55; Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 213-24; Danandjaja &amp;amp; Koentjaraningrat, 2004: 41; Koestoro &amp;amp; Wiradnyana, 2007: 26).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Orang Maruwi&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1811 Marsden melaporkan bahwa penghuni pulau Hinako adalah ras yang disebut Maros atau orang Maruwi. Kata ‘maruwi’ lebih umum dikenal sebagai ‘maru’. Belakangan ‘maru’ menjadi akar nama mado (marga) orang Nias keturunan Bugis di Hinako. Menurut Fries (1919: 55), mado tersebut adalah: Maroe Ndroeri, Maroe Ao, Maroe Haŵa, Maroe Lafaoe, Maroe Abaja, dan Maroe Gadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Hämmerle (2001: 219) mencari informasi tentang suku Bugis di kepulauan Hinako, tahun 1980 beliau memperoleh keterangan mengenai mado keturunan Bugis dari informan yang bergelar Raja Kelapa, seorang keturunan Bugis yang berdomisili di Sirombu. Menurut Raja Kelapa, mado orang Bugis yang mendiami kepulauan Hinako adalah: Maru Ndruri, Maru Haŵa, Maru Abaya, Maru Lafao, dan Maru’ao. Kelima mado tersebut datang ke Hinako sekitar 12 generasi yang lalu (per tahun 1980). Dari keterangan itu Hämmerle memperkirakan kedatangan leluhur Bugis ke Hinako 13 generasi yang lalu (per tahun 2001) atau sekitar tahun 1675. Perkiraan ini cukup berharga dalam upaya melacak sejarah leluhur Bugis di Hinako.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak tahun 1663 seorang bangsawan Bone bernama Arung Palakka dan pasukannya yang berjumlah 400 orang Bugis dari Bone dan Soppeng diterima Belanda menjadi serdadu, ditempatkan di perkampungan Angke di Batavia (Kesuma, 2004: 61; Ricklefs, 2007: 98). Pada tahun 1666 pasukan Arung Palakka membantu Cornelis Speelman menyerbu pasukan Aceh di Pariaman. Peristiwa tersebut menimbulkan dugaan Kesuma (2004: 96), ada anggota pasukan Arung Palakka yang tertinggal dan terdampar hingga ke Hinako.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah anggota pasukan Arung Palakka agaknya berkurang, mungkin karena tewas atau tertinggal sebagaimana dugaan Kesuma. Setelah penyerbuan di Pariaman, 24 Nopember 1666 armada gabungan pasukan Belanda dan pasukan Arung Palakka berangkat menyerbu Makassar. Kekuatan pasukan Arung Palakka masih tetap 400 orang, namun angka tersebut genap setelah ditambah sejumlah anggota pasukan Ambon pimpinan Yonker yang berasal dari Manipa (Kesuma, 2004: 62).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jarak waktu antara tahun 1666 (kedatangan pasukan Arung Palakka di Pariaman) dan tahun 1675 (kedatangan leluhur Bugis di Hinako perkiraan Hämmerle) relatif dekat. Benarkah leluhur sebagian orang Nias di Hinako berasal dari anggota pasukan Arung Palakka? Bila benar, mengapa terkesan mereka berasal dari Maros (orang Maros atau orang Maruwi), bukan dari Bone dan Soppeng asal pasukan Arung Palakka?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lepas dari itu, angka tahun ini menunjukkan leluhur Bugis tiba di Hinako pada abad 17, sekitar satu abad (4 generasi) lebih dulu ketimbang kedatangan leluhur Bugis di Batu. Meski sama-sama dari Sulawesi, kelompok mereka tentu berbeda. Boleh jadi, faktor inilah yang melatarbelakangi ‘cerita lisan’ tentang tiga bersaudara Bugis; anak pertama tinggal di Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang dan anak bungsu menetap di Batu (Hämmerle, 2001: 214).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai saudagar, orang Bugis dilaporkan hadir di kawasan pantai barat Sumatera sekitar awal abad 10 hingga abad 19 (Parlindungan, 2007: 617; Danandjaja &amp;amp; Koentjaraningrat, 2004: 40-1; Asnan, 2007: 175). Pada abad 10 misalnya, mereka berintegrasi dengan orang Batak di Natal dan Muaralabuh membentuk marga Nasution (Parlindungan, 2007: 617). Dalam rentang waktu yang relatif panjang itu, selain di Hinako dan Batu, dimungkinkan ada leluhur Bugis lain yang menetap di Nias dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mado Maru&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari beberapa sumber diketahui, tidak semua mado ‘maru’ keturunan leluhur Bugis. Mado Maru Haŵa misalnya, adalah keturunan mado Zebua bernama Haŵa Dölömbanua (Zebua, 1995:49; Hämmerle, 2001: 222). Atau, mado Maru Lafao adalah keturunan mado Daeli bernama Gandria (Hämmerle, 2001: 223). Bahkan mado Maru Ndruri yang dipercaya leluhurnya berasal dari Sulawesi, ada yang mengaku keturunan Hia Ho (Zebua, 1995: 51; Hämmerle, 2001: 220-1). Bagaimana hal ini bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Hämmerle (2001: 214), di Hinako dulu ada kepercayaan pada Kara Maru, suatu batu yang melayang-layang di laut dan bersuara, “Ambillah saya, sembahlah saya.” Barang siapa berkunjung ke Hinako harus menyembah batu itu, kalau tidak pasti orang itu akan sakit. Berlatar-belakang kepercayaan ini, kemungkinan besar warga Hinako (dari pelbagai keturunan) mengambil ‘maru’ sebagai mado mereka. Anggapan ini terkesan spekulatif. Namun dapat terjadi, karena orang Nias mengenal nama mado ‘belum begitu lama’, ketika diadakan soera pas (semacam KTP) sekitar tahun 1913-1914 (Zebua, 1996: 7).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Medan penelitian sejarah leluhur Bugis di Hinako dan Batu, serta di Nias umumnya, masih terbuka lebar. Setidaknya uraian di atas memberi gambaran kehadiran leluhur Bugis dalam masyarakat Nias. Menurut Kesuma (2004: 137) filosofi migrasi orang Bugis adalah “Kegisi Monro Sore’ Lopie’, Kositu Tomallabu Sengereng” [di mana perahu terdampar, di sanalah kehidupan ditegakkan]. Menyambut ‘kehidupan yang ditegakkan’ oleh para leluhur Bugis di kawasan Nias, Fries (1919: 55) menulis sebuah kalimat yang bijak, “Ma’oewoera, ba hoelö no tobali Ono Niha sa’ae”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Asnan, Gusti, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, Penerbit Ombak, 2007&lt;br /&gt;   2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984&lt;br /&gt;   3. Danandjaja, J. &amp;amp; Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004&lt;br /&gt;   4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919&lt;br /&gt;   5. Hämmerle, Johannes M., Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001&lt;br /&gt;   6. Hämmerle, Johannes M., Lingua Nias, Media Warisan No. 38-39 (IV), April 2004&lt;br /&gt;   7. Kesuma, Andi Ima, Migrasi &amp;amp; Orang Bugis, Penerbit Ombak, 2004&lt;br /&gt;   8. Koestoro, Lucas Pratanda &amp;amp; Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007&lt;br /&gt;   9. Marsden, William, The History of Sumatra (1811), The Project Gutenberg eBook, 2005&lt;br /&gt;  10. Mufti, Adlan, Legende Asal Mulanya Pulau-Pulau Batu, Sinar Indonesia Baru, Januari 1979&lt;br /&gt;  11. Muljana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, LKiS, cet. 4, 2007&lt;br /&gt;  12. Parlindungan, Mangaradja Onggang, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao (1964), LKiS, 2007&lt;br /&gt;  13. Ricklefs, M.C, A History of Modern Indonesia (1981), terjemahan: Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 2007&lt;br /&gt;  14. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996&lt;br /&gt;  15. Zebua, S., Menelusuri: Sejarah Kebudayaan Ono Niha, Tuhegeo I, 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(http://niasonline.net)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-8098422402546757312?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/8098422402546757312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/leluhur-bugis-orang-nias.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/8098422402546757312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/8098422402546757312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/leluhur-bugis-orang-nias.html' title='Leluhur Bugis Orang Nias ?'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-2701384853572843578</id><published>2010-02-26T10:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T23:38:17.028-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU MANDAR'/><title type='text'>Asal Usul Suku Mandar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara yang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Begitu mereka bangun dari tidur, mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim, struggle for survival), dan membangun kebudayaannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul ”Manusia Bugis” (2006), bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang). Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah: rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar. Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perahu khas Mandar ini terbuat dari kayu, sehingga sekilas terkesan rapuh. Namun jika membaca sejarahnya, akan diketahui bahwa perahu yang terkesan rapuh itu mampu dengan lincah mengarungi lautan luas. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter, dan di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Untuk berlayar, perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting, kapal, dan bodi-bodi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan, khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon) pada musim ikan terbang bertelur (motangnga).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Suku Mandar adalah suku asli di Sulawesi Barat. Menurut situs "Joshua Project" suku Mandar berjumlah 253.000 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suku Mandar juga berjiwa petualang hingga Ke kalimantan, sebagian besar suku Mandar bermukim di pulau Laut, Kabupaten Kota Baru. Rumah adat suku Mandar di sebut boyang. Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan yaitu "mappando'esasi" (bermandikan air laut). Populasi suku Mandar di Propinsi Kalimantan Selatan : 29.322 (BPS - sensus th. 2000)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Mandar di Kalimantan Selatan berjumlah 29.322 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  * 49 jiwa di kabupaten Tanah Laut&lt;br /&gt;  * 29.123 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk Tanah Bumbu)&lt;br /&gt;  * 17 jiwa di kabupaten Banjar&lt;br /&gt;  * 1 jiwa di kabupaten Tapin&lt;br /&gt;  * 2 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan&lt;br /&gt;  * 7 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah&lt;br /&gt;  * 12 jiwa di kabupaten Tabalong&lt;br /&gt;  * 105 jiwa di kota Banjarmasin&lt;br /&gt;  * 6 jiwa di kota Banjarbaru&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-2701384853572843578?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/2701384853572843578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula-suku-mandar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2701384853572843578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2701384853572843578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula-suku-mandar.html' title='Asal Usul Suku Mandar'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-2854218777827419902</id><published>2010-02-26T10:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T22:13:26.874-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU MAKASSAR'/><title type='text'>Asal Usul Suku Makassar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara' berarti Mereka yang Bersifat Terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. Hingga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Belanda, segala potensi dimatikan, mengingat Suku ini terkenal sangat keras menentang Belanda. Dim anapun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa memerangi Belanda disana. Bersama armada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Makassar masih sangat panjang. Generasi demi generasi yang terampas harga diri dan kepercayaan dirinya sedang bangkit bertahap demi bertahap sambil berusaha menyambung kebesaran nama Makassar, "Le'ba Kusoronna Biseangku, Kucampa'na Sombalakku. Tamammelokka Punna Teai Labuang"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-2854218777827419902?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/2854218777827419902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula-suku-makassar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2854218777827419902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2854218777827419902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula-suku-makassar.html' title='Asal Usul Suku Makassar'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-6649478319185637147</id><published>2010-02-26T10:31:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T22:10:59.988-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUKU TATOR'/><title type='text'>Asal Usul Suku Toraja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ASAL MASYARAKAT TANA TORAJA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan “tangga dari langit” untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Aluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi’ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme’ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi’ dirura.Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi’ adalah pembawa aluk Sabda Saratu’ yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “To Unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerahsebelah timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : “To Unnirui’ suku dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.&lt;br /&gt;Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”, Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi’ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu’, Parange menuju Buntao’, Pasontik ke Pantilang, Pote’Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma’dandan ke Bala (Mangkendek), Sirrang ke Dangle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari”. Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-6649478319185637147?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/6649478319185637147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula-tana-toraja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6649478319185637147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6649478319185637147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula-tana-toraja.html' title='Asal Usul Suku Toraja'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7716449535900690764</id><published>2010-02-26T09:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T10:09:22.686-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Kehidupan Bangsa  Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kehidupan Bangsa Bugis       &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;      Bagi Anda yang berasal dari daerah Sulawesi pasti Anda sudah mengenal Bangsa  Bugis, tetapi bagi Anda yang berasal daerah lain apakah Anda mengetahui bahwa Bangsa Bugis atau rumpun Bugis itu tidak hanya ada satu suku melainkan 14 suku rumpun Bugis. Suku-suku tersebut antara lain, Suku Bentong, Bugis, Campalagian, Duri, Enrekang, Konjo Pagunungan, Konjo Pesisir, Luwu, Maiwa, Suku Makassar, Mamuju, Mandar, Pannei dan Ulumanda.&lt;br /&gt;      Suku Bentong terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan populasi 25.000 jiwa, sementara suku Campalagian terletak di Propinsi Sulawesi Barat dengan populasi jiwa 30.000 jiwa, sementara suku Duri  dengan populasi sebanyak 475 jiwa. Untuk suku Enrekang, memiliki populasi 50.000 jiwa. Suku Konjo Pegunungan terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan populasi sebanyak 150.000 jiwa, untuk Konjo Pesisir jumlah populasi sebanyak 125.000 jiwa, sementara suku Luwu, mimiliki populasi 38.000 jiwa suku Maiwa memiliki pupulasi 50.000 jiwa, Suku Makassar memiliki populasi 2.240.000 jiwa, suku Mamuju berpopulasi 60.000 jiwa, suka Mandar berpopulasi 250.000 jiwa, suku Pannei berpopulasi 250.000 jiwa, suku Pannei memiliki 10.000 jiwa dan suku Ulumanda memiliki 31.000 populasi,sementara suku Bugis sendiri yang masih terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki populasi paling besar yaitu 3.800.000 jiwa.&lt;br /&gt;      Kebanyakan masyarakat dari Bangsa Bugis beragama Islam. Dari aspek budaya, Bangsa Bugis memiliki bahasa sendiri yang dikenal dengan sebutan `BAHASA UGI`, yang memiliki tulisan huruf lontara Bugis, yang diucapkan dengan bahasa Bugis sendiri. Huruf ini sudah ada sejak abad ke-12, ketika melebarnya pengaruh Hindu di Indonesia.&lt;br /&gt;      Bangsa  Bugis ini suku yang gemar merantai. Anda Jangan kaget kalau mereka ada di provinsi Maluku di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan sampai ke Manca Negara, dalam hal ini Afrika Selatan.&lt;br /&gt;      Mungkin itu salah satu sebabnya mereka dikait-kaitkan dengan perahu pinisi, armada pelayaran rakyat, mungkin itu diambil dari salah satu kota yang pernah mereka singgahi, dalam hal ini negara Italia, dengan kotanya Venice. Bangsa  Bugis biasanya mengabadikan nama-nama tempat yang penuh kenangan atau mempunyai kesan istimewa pada perahunya, mereka juga mengidentikkan perahunya dengan sejenis ikan yang berenang sangat cepat di laut lepas. Berharap perahunya dapat berjalan/berlari secepat ikan tersebut sehingga banyak pula dari mereka yang menamakan perahunya dengan nama `PINISI PALARI`.&lt;br /&gt;      Salah satu kota di luar pulau Sulawesi yang dibangun oleh Bangsa Bugis adalah kota Samarinda. Daerah Samarinda terbentuk tatkala sekelompok Bangsa Bugis dari Kerajaan Gowa datang ke Kalimantan Timur untuk mengabdikan diri pada Raja Kutai karena menentang perjanjian Bongaya dan Belanda. Kerajaan Kutai menerima kelompok penentang ini karena diperlukan untuk membantu kerajaan Kutai menentang Belanda. Mereka diijinkan bermukim di hilir Sungai Mahakam, yaitu di Samarinda Seberang, waktu kejadiannya diperkirakan pada tahun 1668.&lt;br /&gt;       Ada juga seorang professor yang memiliki teori yang menarik, yang mengatakan bahwa Bangsa  Bugis berasal dari daerah Lampung, yang terdampar di Gowa (Sulawesi Selatan), setelah mereka lari karena diserang oleh musuh yang menurutnya datang dari India ?.&lt;br /&gt;      Bangsa Bugis dikenal sebagai masyarakat nelayan, mereka mencari kehidupannya dari laut, mereka mempertahankan hidup dari laut. Jadi sebagian besar masyarakat mereka adalah pelaut, jadi lagu `Nenek Moyangku Seorang Pelaut` cocok untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7716449535900690764?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7716449535900690764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/kehidupan-bangsa-bugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7716449535900690764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7716449535900690764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/kehidupan-bangsa-bugis.html' title='Kehidupan Bangsa  Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-6613004362357337616</id><published>2010-02-26T09:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T09:22:50.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PETUAH BUGIS'/><title type='text'>Paseng</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S4gDU9QTSoI/AAAAAAAACps/l5aFnHMzl9c/s1600-h/gita.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 86px; height: 100px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S4gDU9QTSoI/AAAAAAAACps/l5aFnHMzl9c/s200/gita.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442603808252447362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;1. AJA’ MUANGOAI ONRONG, AJA’TO MUACINNAI TANRE TUDANGENG, NASABA DETUMULLEI PADECENGI TANA, RISAPPAPO MUOMPO, RIJELLO’PO MUAKKENGAU&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Artinya :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Janganlah menyerakahi kedudukan, jangan pula terlalu mengingini jabatan tinggi, karena engkau tak sanggup memperbaiki Negara. Kalau dicari baru akan muncul. Kalu ditunjuk baru engkau mengaku.&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, semua orang mencita-citakan kedudukan atau jabatan tinggi, tetapi takdir dan kesempatan membawanya kea rah lain. Akan tetapi manakala keserakahan menjadi tumpuan untuk menggapai cita-cita, maka dalam perjalanan menuju cita-cita unsure moral akan dikesampingkan, bahkan fatal bila ditunjang oleh kekuasaan. Sebaliknya seorang yang beritikad baik pada umumnya mempunyai harga diri sehingga malu akan mengemis jabatan dan bila diberikan amanah dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. TELLU  RIALA  SAPPO :  TAUWE RI DEWATAE, SIRI  RI WATAKKALETA, NENNIYA SIRI RI PADATTA RUPA TAU&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Hanya tiga yang dijadikan pagar : rasa takut kepada Tuhan,  rasa malu  pada diri sendiri, dan rasa malu kepada sesame manusia.&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;Rasa takut kepada Tuhan membawa ketaqwaan dan memperkuat iman. Rasa malu kepada diri sendiri akan menekan niat buruk dan memperhalus akal budi, dan rasa malu kepada sesama manusia dapat membendung tingkah laku buruk dan meninggikan budi pekerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PALA  URAGAE,  TEBBAKKE  TONGENGNGE,  TECCAU  MAEGAE,  TESSIEWA  SITULA’E&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tak termusnahkan, kebenaran tetap akan hidup dan bersinar terus di dalam kalbu manusia.&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;Karena sumber kebenaran datangnya dari Tuhan. Yang sedikit mungkin mengalahkan yang banyak untuk sementara karena kekuatan. Akan tetapi yang banyak tidak dapat diabaikan atau dimusnahkan. Yang banyak saja sudah satu kekuatan apalagi yang banyak membina kekuatan.&lt;br /&gt;Adalah tidak mungkin matahari tenggelam di siang hari, seperti tidak mungkinnya memusnahkan kebenaran .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salama to pada Salama&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-6613004362357337616?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/6613004362357337616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/paseng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6613004362357337616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6613004362357337616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/paseng.html' title='Paseng'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S4gDU9QTSoI/AAAAAAAACps/l5aFnHMzl9c/s72-c/gita.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-8378714516809395645</id><published>2010-02-26T00:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:49:26.729-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Kerajaan Bangsa Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Kerajaan Bone&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;      Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Kerajaan Makassar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerajaan Soppeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerajaan Wajo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(wikipedia.org-Teluk Bone)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-8378714516809395645?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/8378714516809395645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/kerajaan-bangsa-bugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/8378714516809395645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/8378714516809395645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/kerajaan-bangsa-bugis.html' title='Kerajaan Bangsa Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-1454504080535272138</id><published>2010-02-26T00:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:38:57.423-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Perkembangan Bangsa Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.&lt;br /&gt;      Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)&lt;br /&gt;(wikipedia.org-Teluk Bone)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-1454504080535272138?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/1454504080535272138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/perkembangan-bangsa-bugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1454504080535272138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/1454504080535272138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/perkembangan-bangsa-bugis.html' title='Perkembangan Bangsa Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-3905232396925645097</id><published>2010-02-26T00:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:35:56.385-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Asal Mula</title><content type='html'>Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis.&lt;br /&gt;      Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.&lt;br /&gt;(wikipedia.org)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-3905232396925645097?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/3905232396925645097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3905232396925645097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3905232396925645097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/asal-mula.html' title='Asal Mula'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-7651192472217317025</id><published>2010-02-26T00:06:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:43:21.511-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Tentang Bangsa Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Bugis bukanlah sekadar sebuah suku akan tetapi sudah dikategorikan sebuah Bangsa. Bangsa Bugis itu sendiri terdiri atas beberapa suku. Dia antaranya adalah suku Bugis, suku Mandar, suku Makassar, dan suku Tator. Suku inilah yang tergabung menjadi sebuah bangsa, yaitu BANGSA BUGIS.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Bangsa Bugis merupakan penduduk asli Sulawesi Selatan. Di samping itu, orang-orang Bugis berjiwa petualang dan menyebar hingga ke se antero benua. Dalam pengembaraannya itu lambat laun tapi pasti senantiasa tetap menerapkan norma-norma kehidupan Bugis dalam menjalankan segala aktivitasnya baik di bidang sosial, hukum, ekonomi, politik, maupun  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;      Bugis merupakan salah satu suku bangsa yang taat dalam mengamalkan ajaran Islam. Disamping itu bangsa Bugis memiliki aksara dan bahasa sendiri yang disebut &lt;a href="http://telukbone.blogspot.com/2009/01/ensiklopedia-bugis.html"&gt;Lontara Bugis.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-7651192472217317025?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/7651192472217317025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/bangsa-bugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7651192472217317025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/7651192472217317025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/bangsa-bugis.html' title='Tentang Bangsa Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-2091201538358297725</id><published>2010-02-17T10:26:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T10:27:39.076-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Logo Teluk Bone</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 262px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S3w01SG0sxI/AAAAAAAACoU/2_2FL558vo8/s320/Logo+Teluk+Bone.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439280539954885394" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-2091201538358297725?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/2091201538358297725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/logo-teluk-bone.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2091201538358297725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2091201538358297725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/logo-teluk-bone.html' title='Logo Teluk Bone'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S3w01SG0sxI/AAAAAAAACoU/2_2FL558vo8/s72-c/Logo+Teluk+Bone.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-4179236061407131651</id><published>2010-02-17T10:17:00.000-08:00</published><updated>2011-03-11T23:49:28.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Patung Arung Palakka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 219px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S3wzdbnZnMI/AAAAAAAACoM/-bRviRY8qDU/s320/Arung+Palakka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439279030678953154" border="0" /&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 201px; height: 209px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/TTlGPeG_OaI/AAAAAAAADXY/a4rEwL6hUJk/s320/Jend.-AP-3.gif" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-4179236061407131651?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/4179236061407131651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/patung-arung-palakka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4179236061407131651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/4179236061407131651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/patung-arung-palakka.html' title='Patung Arung Palakka'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S3wzdbnZnMI/AAAAAAAACoM/-bRviRY8qDU/s72-c/Arung+Palakka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-6900794774262263750</id><published>2010-02-17T10:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T10:09:52.322-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Gapura Bone</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S3wwt9VnUUI/AAAAAAAACoE/BqcIWxMrPZ0/s320/gapura-bone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439276016074182978" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-6900794774262263750?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/6900794774262263750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/gapura-bone.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6900794774262263750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/6900794774262263750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/gapura-bone.html' title='Gapura Bone'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/S3wwt9VnUUI/AAAAAAAACoE/BqcIWxMrPZ0/s72-c/gapura-bone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-9198770186191573838</id><published>2010-02-17T08:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:51:12.430-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Islam, Kolinial, dan Mata Pencaharian Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penyebaran Islam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; Kolonialisme Belanda&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang tidak sudi berada dibawah Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan benteng Somba Opu luluh lantak. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-6 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Bugis-Makassar baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Masa Kemerdekaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Para raja-raja di Nusantara bersepakat membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Bugis-Makassar adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mata Pencaharian&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; Bugis Perantauan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;     Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penyebab Merantau&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; Bugis di Kalimantan Selatan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Kini sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-9198770186191573838?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/9198770186191573838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/islam-kolinial-dan-mata-pencaharian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/9198770186191573838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/9198770186191573838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/islam-kolinial-dan-mata-pencaharian.html' title='Islam, Kolinial, dan Mata Pencaharian Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-3284601241751152931</id><published>2010-02-17T08:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:52:37.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BANGSA BUGIS'/><title type='text'>Konflik antar Kerajaan Bugis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Konflik antar Kerajaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "Tellumpoccoe".&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-3284601241751152931?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/3284601241751152931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/konflik-antar-kerajaan-bugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3284601241751152931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/3284601241751152931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/02/konflik-antar-kerajaan-bugis.html' title='Konflik antar Kerajaan Bugis'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8087586365202253533.post-2872652697139831656</id><published>2009-08-29T23:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T21:21:35.394-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Tamu'/><title type='text'>Buku Tamu</title><content type='html'>&lt;!-- BEGIN CBOX - www.cbox.ws - v001 --&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="cboxdiv" style="text-align: center; line-height: 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;iframe src="http://www5.cbox.ws/box/?boxid=597355&amp;amp;boxtag=k71ejc&amp;amp;sec=main" marginheight="2" marginwidth="2" allowtransparency="yes" name="cboxmain" style="border: 1px solid rgb(219, 226, 237);" id="cboxmain" width="340" frameborder="0" height="405" scrolling="auto"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;iframe src="http://www5.cbox.ws/box/?boxid=597355&amp;amp;boxtag=k71ejc&amp;amp;sec=form" marginheight="2" marginwidth="2" allowtransparency="yes" name="cboxform" style="border-width: 0px 1px 1px; border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(219, 226, 237) rgb(219, 226, 237);" id="cboxform" width="340" frameborder="0" height="175" scrolling="no"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8087586365202253533-2872652697139831656?l=bangsabugis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsabugis.blogspot.com/feeds/2872652697139831656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/12/buku-tamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2872652697139831656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8087586365202253533/posts/default/2872652697139831656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsabugis.blogspot.com/2010/12/buku-tamu.html' title='Buku Tamu'/><author><name>gitalara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_1nyFuwLhtS4/SzjU-owj27I/AAAAAAAACTg/Au_J8wjBL08/S220/ltb.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
