Music Video

Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Perkataan “Luwu” atau “Luu” itu sebenarnya berarti “Laut”. Luwu adalah suku bangsa yang besar yang terdiri dari 12 anak suku. Walaupun orang sering mengatakan bahwa Luwu termasuk suku Bugis, tetapi orang-orang Luwu itu sendiri menyatakan mereka bukan suku Bugis, tetapi suku Luwu. Sesuai dengan pemberitaan lontara Pammana yang mengisahkan pembentukan suku Ugi’ (Bugis) di daerah Cina Rilau dan Cina Riaja, yang keduanya disebut pula Tana Ugi’ ialah orang-orang Luwu yang bermigrasi ke daerah yang sekarang disebut Tana Bone dan Tana Wajo dan membentuk sebuah kerajaan. Mereka menamakan dirinya Ugi’ yang diambil dari akhir kata nama rajanya bernama La Sattumpugi yang merupakan sepupu dua kali dari Sawerigading dan juga suami dari We Tenriabeng, saudara kembar dari Sawerigading.
Kerajaan Luwu diperkirakan berdiri sekitar abad X yang dibangun oleh, sekaligus sebagai raja pertama adalah Batara Guru (Tomanurung) yang dipercaya turun dari langit diutus oleh ayahnya Dewa Patoto’e untuk turun mengisi kekosongan di dunia tengah. Beliau turun tepat di daerah Ussu, kecamatan Malili, kabupaten Luwu Timur lalu dikawinkan dengan We Nyili Timo’ sepupu satu kalinya yang berasal dari dunia bawah, sehingga lahirlah beberapa keturunan. Setelah dunia tengah sudah banyak penghuninya dan kehidupan di dalamnya sudah berjalan baik, maka kembalilah Batara Guru ke atas langit.
Kerajaan Luwu merupakan kerajaan paling sepuh diantara beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan karena asal-usul setiap raja di Sulawesi Selatan berasal dari Luwu. Seperi dalam kerajaan Gowa, mereka meyakini bahwa raja pertama mereka mempunyai asal-usul dari kerajaan Luwu begitu halnya dengan kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dan bahkan di Pulau Sulawesi serta sebagian Kalimantan. Oleh sebab itu, Luwu sangat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan.
Pusat kerajaan Luwu (Ware’) pertama adalah di daerah Ussu. Ussu terkenal akan hasil alamnya berupa besi dan pelabuhannya yang terletak di muara sungai Cerekang , dan diyakini kalau besi-besi yang ada di Jawa untuk dipakai membuat keris pada zaman itu berasal dari Luwu. Hal ini bisa di benarkan karena dulunya Luwu sudah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Sulawesi dan hal ini dapat dibuktikan dengan tercantumnya nama kerajaan Luwu dalam kitab Negarakertagama milik kerajaan Majapahit. Kerajaan Luwu juga dikenal dengan hasil karya sastranya, yaitu I La Galigo. I La Galigo merupakan karya sastra terbesar dan terpanjang di dunia mengalahkan Mahabrata yang berasal dari India yang ditulis sekitar abad 14 lalu disalin ulang lagi oleh Colli’ Puji’e Arung Pancana Toa sebanyak 12 jilid yang kini tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda.
Pusat kerajaan Luwu (Ware’) yang terakhir adalah Palopo. Pemindahan Ware’ ini (Ware’ sebelumnya Malangke) karena letak Palopo yang strategis di pinggir Teluk Bone sehingga memudahkan untuk menjalin hubungan dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan melalui laut. Pemindahan Ware’ ini dilakukan pada masa Pajung / Datu Luwu ke- 15, yaitu Andi Pattiware’ Daeng Parabung pada abad ke XV awal masuknya Islam ke Tana Luwu.
Raja terakhir dari kerajaan Luwu adalah Andi Djemma yang bergelar Petta Matinro’e ri Amaradekanna yang memerintah mulai tahun 1935-1965 Masehi. Beliau merupakan raja yang sangat dikagumi dan dibangga-banggakan oleh rakyatnya bahkan raja-raja lain di Sulawesi Selatan karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Beliau rela mati dan meninggalkan seluruh harta dan kekuasaannya untuk mempertahahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Karena itulah beliau diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat sekitar tahun 2003, dimana beliau merupakan satu-satunya raja Luwu dari sekian raja Luwu yang memerintah ketika Belanda datang menjajah negara kita yang memperoleh gelar kehormatan tersebut.
Sebelum agama Islam masuk ke Tana Luwu, masyarakat mulanya menganut Animisme. Setelah sepuluh abad lebih berdiri, kerajaan Luwu baru menerima agama Islam sekitar abad ke-15, yaitu pada tahun !593. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal-hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di desa Lapandoso, kecamatan Bua, kabupaten Luwu.
Setelah sampai, Datu Sulaiman lalu dipertemukan dengan Tandipau (Maddikka Bua saat itu). Sebelum menerima agama yang dibawa oleh kedua Datu itu, Tandipau terlebih dahulu menantang Datu Sulaiman. Tantangan itu adalah Tandipau akan menyusun telur sampai beberapa tingkat, apabila Datu Sulaiman mengambil telur yang ada di tengah-tengah tetapi telur itu tidak jatuh atau bergeser sedikitpun, maka Tandipau akan mengakui ajaran agama Islam yang dibawa oleh Datu Sulaiman. Tandipau berani disyahadatkan asalkan tidak diketahui oleh Datu’ karena ia takut durhaka bila mendahului Datu’. Sebelum ke Malangke (Ware’) untuk menghadap Datu’, ke dua Dato’ itu terlebih dahulu membangun sebuah masjid di Bua tepatnya di desa Tana Rigella yang dibangun sekitar tahun 1594 Masehi yang merupakan masjid tertua di Sulawei Selatan. Masjid ini pernah dimasuki oleh tentara NICA pada zaman penjajahan lalu menginjak dan merobek-robek Al-Qur’an yang ada di dalam masjid. Hal inilah yang memicu kemarahan rakyat Luwu lalu terjadilah perang semesta rakyat Luwu pada tanggal 23 Januari 1946 yang selalu diperingati oleh masyarakat Luwu setiap tahunnya.
Setelah membuat masjid di Bua, Dato’ Sulaiman lalu diantar ke Ware’ (Malangke) untuk menemui Datu’ Pattiware’. Setelah terjadi dialog siang dan malam antara Datu’ dengan Dato’ Sulaiman mengenai ajaran agama yang dibawanya, maka Datu’ Pattiware’ pun bersedia diislamkan bersama seisi istana. Pada Waktu itu Pattiware’ sudah memiliki tiga orang anak, yaitu Pattiaraja (12 tahun), Pattipasaung (10 tahun, yang kemudian menjadi Pajung / Datu Luwu ke 16 menggantikan ayahnya) dan Karaeng Baineya (3 tahun), serta adik iparnya Tepu Karaeng (25 tahun). Islam lalu dijadikan sebagai agama kerajaan dan dijadikan pula sebagai sumber hukum. Walaupun sudah dijadikan sebagai agama kerajaann, penduduk yang jauh dari Ware’ dan Bua masih tetap menganut kepercayaan Sawerigading. Mereka mengatakan bahwa ajaran Sawerigading lebih unggul dibanding ajaran agama yang daibawa oleh Dato’ tersebut.
Setelah berhasil mengislamkan Datu’ Pattiware’, Dato’ ri Bandang atau Khatib Bungsu lalu pergi untuk menyebarkan Islam didaerah lain di Sulawesi Selatan. Sedangkan Dato’ Sulaiman tetap tinggal di Luwu agar bisa mengislamkan seluruh rakyat Luwu karena hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Beliau lalu wafat dan dikuburkan di Malangke, tepatnya di daerah Pattimang, dan ia pun diberi gelar Dato’ Pattimang.
Saat pusat kerajaan Luwu (Ware’) dipindahkan dari Malangke ke Palopo, Andi Pattiware’ yang bergelar Petta Matinro’e ri Pattimang (1587-1615 M) Datu’ pada zaman itu, memerintahkan untuk membuat suatu masjid yang dapat digunakan oleh masyarakat Palopo untuk menunaikan Shalat secara berjamaah yang letaknya tidaklah jauh dari “Salassae” istana Luwu. Masjid itu sendiri dibuat oleh Pong Mante pada tahun 1604 Masehi dimana makamnya terdapat dalam masjid Djami itu sendiri, tepatnya di bawah mimbar yang besar. Konon batu yang dipakai untuk membangun masjid itu dibawa dari Toraja dengan cara orang-orang berjejer dari Toraja sampai ke Palopo lalu batu-batu itu dioper satu per satu. Sedangkan bahan yang dipakai untuk merekatkan batu yang satu dengan yang lainnya adalah putih telur yang diambil dari kecamatan Walenrang, kabupaten Luwu.
Nama Palopo itu sendiri yang sudah lama kita kenal berasal dari kata “Pallopo’ni” yang diucapkan oleh orang-orang saat ingin menancapkan tiang masjid yang besar. Panjang tiang utama masjid ini sekitar 16 meter dan kayu yang dipakai adalah kayu Cina Guri, namun sekarang kayu jenis ini sudh tidak ada lagi. Konon kayu jenis Cina Guri ini dikutuk sehingga sekarang hanya menjadi rerumputan kecil yang biasa diberikan pada ternak sebagai makanan. Arti kata “Pallopo’” yang secara bebas berarti “masukkan dengan tepat”. Menurut kepercayaan masyarakat, seseorang belum bisa dikatakan menginjak Palopo jika ia belum pernah masuk ke dalam Masjid Djami.
Setelah empat abad lebih, bangunan masjid Jami’ masih utuh dan tetap terawat dengan baik sehingga pada tahun 2002 yang lalu Masjid Djami’ Palopo memperoleh penghargaan sebagai Masjid Tua terbaik se-Indonesia mengalahkan ribuan masjid tua lainnya di Nusantara. Setelah berkembang selama kurang lebih empat abad, agama Islam kini menjadi agama yang mayoritas dianut oleh warga Tana Luwu dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Pustaka

Anton Andi Pangerang… (et al). 2002. Andi Djemma-Datu Luwu, Tahta Bagi Republik. Yayasan Bina Profesi dan Wirausaha (BENUA) : Jakarta Selatan.

Salim, Muhammad…(et al). 2003. La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora : Makassar.

(Sumber : wikipedia.org)

Related Posts

40 komentar:

  1. Beni Sjamsuddin Toni (Admin Wija To Luwu)13 Juni 2010 07.09

    Tolong kalau mau pos-kan tulisan harus diperjelas asal tulisan itu dari mana.

    BalasHapus
  2. yang buat blog ini bodoh sekali..
    judulnya asal usul suku luwu..
    padahal yang di ceritakan tentang kerajaan luwu..
    ini bego apa tolol..

    mending belajar sejarah dulu baru nulis judul..
    dasar otak dungu..

    BalasHapus
  3. Kalau menurut Anda > Apa judul yang terbaik...karena tulisan ini ada sumbernya dan silakan baca kalimat demi kalimat bapak

    BalasHapus
  4. Tulis nama Anda jangan hanya Anonim

    BalasHapus
  5. he....he....Sudah ada daftar pustaka tanya lagi mana sumbernya

    BalasHapus
  6. yang nulis blog ini adalah : www.telukbone.org

    BalasHapus
  7. Baca Baik-baik sebelum anda mengkritik he....he....

    BalasHapus
  8. terima kasih kerna share pasal luwu.

    BalasHapus
  9. Ada Bangsa Bugis, tp Luwu yg jeLas-jelas asal dr beberapa suku yg ada di sul-sel di biLang suku..??

    BalasHapus
  10. Tidak salahjiki Opu, adakah suku Luwu? setau kami palopo n endrekang itu suku TORAJA, lihatlah bahasanya, hampir2 sama kan?
    Kenapa malu mengakui kita orang TORAJA, padahal islam baru ada beberapa tahun di INDONESIA?????? tidakkah kita sebenarnya semua dulu Islam, sehingga agama yang datang kemudian agak susah diterimah oleh leluhur kita? sebab sebenarnya kita memang sudah ISLAM. islam kok di islamkan lagi?

    BalasHapus
  11. sampai hari ini kalau berbicara tentang Luwu baik itu, kerajaan, luwu, atau budaya luwu, masih multi tafsir. saya mengusulkan u, lebih banyak membuat kegiatan di daerah, entah seminar, nasional, diskusi budaya, atau kegiatan2 lainnya. dan yang paling penting.. dalam dunia akademis data / referensi yang paling utama bila membahas sesuatu. sehingga perlu di bukukan. kita sadari atau tidak masyarakat luwu , masih banyak yang tidak paham/ kurang paham akan budayanya sendiri. mari ki sama-sama melestarikan dan memperkenalkan budaya luwu/budaya luwu ke masyarakat luas. tp sebelumnya, masyarakat luwu harus tuntas dulu. salam budaya

    BalasHapus
  12. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  13. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  14. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  15. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  16. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  17. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  18. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  19. maaf smuanya....sy sngt.tak stuju klw tomanurung itu jelmaan dewa yg trn dr langit......rasul² ALLAH SWT aja trlhr kedunia dg wajar kcuali ISA as....maaf...N sy mau brtanya....bahasa yg di pakai di lontara itu bhs bugis atau bhs luwu?....biar lbh jlas klw kita orng luwu ini suku apa yg sbnrnya.thanks.

    BalasHapus
  20. Arti kata palopo dalam bahasa toraja adalah tanah subur. Jangan2 orang luwu berasal toraja. Kebudayaan toraja dimulai dari zaman megalitik dan bayak persamaan bahasa dengan bahasa toraja. Datu luwu bertongkonan di toraja seperti tongkonan manaek di nonongan dan di sa'dan, dll

    BalasHapus
  21. Terima Kasih Atas komentarnya ...

    BalasHapus
  22. Sebenarx bangsa bugis adlh gelombang I dan II dri pendudukan nusantara pd zaman logam (±1500 sm) gelombang I yaitu melayu proto (melayu tua): Toraja (sulsel),Batak (sumut),Sasak (lombok),Dayak (kalteng),Nias pantai barat (sumut),dll. Itu bru 1 gelombang.

    BalasHapus
  23. Sebenarx bangsa bugis adlh gelombang I dan II dri pendudukan nusantara pd zaman logam (±1500 sm) gelombang I yaitu melayu proto (melayu tua): Toraja (sulsel),Batak (sumut),Sasak (lombok),Dayak (kalteng),Nias pantai barat (sumut),dll. Itu bru 1 gelombang.

    BalasHapus
  24. yang saya tau suku pertama yang ada di sulsel itu ya tiraja...berarti yang lain nitun adalah keturunannya...coba oerhatikan dan pikirkan baik baik tulisan di atas...pasti anda dapat melihat bagaimana suku suku bisa jadi banyak gitu/

    BalasHapus
  25. Luwu itu bukan dari toraja bro... Karna orang toraja itu pendatang... Karna menurut orang batak toraja itu bersal dari batak, salah satu bukti yaitu danau toba brarti toraja batak... Kata teman saya... Toraja itu diusir dari batak dulu... Coba deh tanya2 ma orang batak... Trims hanya pemasukan

    BalasHapus
  26. Sangat bermanfaat. Terima kasih

    BalasHapus
  27. maaf,, Toraja itu berasal dari bahasa pesisir Toriaya yg artinya "orang atas" yg tinggal dipegunungan.. tp di eja dlm bhs. bugis menjadi "Toriaja" dan berubah artikulasi menjadi Toraja, maka muncullah penyebutan suku Toraja... tp kenyataan berbicara lain, pada abad ke-20 telah dilakukan penelitian bhw tidak satupun orang yg paham mengapa mereka disebut orang Toraja, mereka hanya mengaku dan dikenal berdasarkan daerah2 kecil yg ada di kab. Toraja sekarang... misalnya "Makale" dll... bagaimana tanggapan saudara sekalian?

    BalasHapus
  28. Kata Toraja sebenarnya berasal dari kata To=Tau (orang) dan Raya (besar, mulia). Orang2 di kampung2 di Toraja sudah menggunakannya sebelum berhubungan dengan suku lain di sekitarnya bahkan jauh sudah digunkanakan sebelum ada suku bugis dan makassar di sulsel. Setelah ada suku bugis maka mereka menyebutnya Toriaja yang berarti menunjuk kepada lokasi daerah toraja . Mereka melafalkannya menjadi toriaja krn orang bugis susah melafalkan huruf ay yg berubah menjadi iaj. Contoh: Surabaya dilafalkan surabaiya, dayak -> daiyak, dll. Setelah mengalami masa yg panjang lama kelamaan berubah arti arti toriaja (bugis) menjadi orang yg berdiam di daerah pengunaungan krn letak orang toraja di pengunanungan.
    Versi lain pada masa pada masa penjajahan belanda orang toraya di didaftarkan oleh orang yang berbasa bugis dalam pemerintahan belanda menjadi Toradja krn pada masa itu ejaan van opuisen tidak mengenal huruf y sehingga tidak ditulis dengan huruf y. Setelah Indonesia merdeka huruf dj berubah menjadi j maka jadilah kata Toraya menjadi Toraja sampai sekarang.
    Namun orang2 toraja yang berbahasa toraja masih tetap menggunakan kata TORAYA bukan TORAJA.
    Mudah2an bermanfaat...
    Soal ada komentar yg mengatakan Toba itu= Toraja Batak itu tidak ilmiah krn tidak ada penelitian yg dapat membuktikannya

    BalasHapus
  29. saya memahami kekesalan saudara anonim,
    menurut SUREK I LA GALIGO. Batara Lattu menikah dengan Datu Senggeng maka lahirlah SAWERIGADING dan kembarannya I WE TENRI ABENG,lalu Sawerigading menikah dengan I We Cu Dai (anak dari La Sattumpugi dengan istrinya yang bernama We Tenri Abang),dan I We Tenri Abeng menikah dengan Remmang ri Langi atau nama lainnya L a Punna langi.Batara Lattu sepupu sama La Sattumpugi,,sementara Datu Senggeng saudara sama We Tenri Abang.

    BalasHapus
  30. Jauh sebelum trio dato menginjakkan kaki di sulawesi selatan pada tahun 1605 ( jadi bukan 1593), termasuk Dato' Sulaiman. Pada tahun 1320, Syekh Jamaluddin Al-Akbar Alhusain sudah menginjakkan kakinya di Sulawesi Selatan, tepatnya di Tosora kabupaten Wajo dan dimakamkan di Tosara. Tabe.

    BalasHapus
  31. tabe' Luwu is Bugis begitupun Bugis is Luwu... sangat jelas dalam sureq La galigo, sebuah naskah kuno Bugis terpanjang yang seluruh dunia pun mengakui itu.... membuat sebuah suku yang baru itu bisa saja tergantung dari kesepakatan saja yang jelas ada unsur yg jelas tp untuk Luwu yang memang adlh Bugis gak perlu diragukan lagi... yang wajar bila budaya yg satu mendapat percampuran dari budaya lain... tp tetap saja sejarah bgitu... memang apa yg salah dgn bugis? makanya tuk mengklaim sebagai budaya yang lain pahami dlu, terlebih mengatakan Luwu adalah termasuk suku Toraja. logikanya suku yg pernah dikuasai mana mungkin menjadi suku awal atau dasar... ????? heran saya, kalau dikatakan mendapat pengaruh bolehlah, itulah sehingga ada beberapa penggunaan bahasa ada yg sama.... wajar kan

    BalasHapus
  32. Kata toraja berasal dari kata To Riaja, "orang yang berdiam di negeri atas",
    orang toraja asalnya dari luwu yang berpindah ke daerah pegunungan.
    Luwu itu bisa di bilang nenek moyang semua suku di sulawesi selatan.
    Jadi, luwu yang berpencar ke selatan terbentuklah bugis makassar, sejak di pisahkan oleh belanda, bugis makassar berpecah menjadi 2 suku dan membuat bugis dan makassar semakin berbeda. terus Luwu yang pindah ke barat di sebut Orang Toraja. Bugis yang bertemu Toraja di Sulbar di sebut Mandar. Dan bugis yang bertemu toraja di Enrekang di sebut Duri dan Massenrengpulu.

    BalasHapus
  33. Assalam....

    Sebenarnya wacana suku Luwu ini, sy tdk tahu, apakah orang yang sering mewacanakan ttg hal ini, kurang paham tentang terminologi dasar ttg apa definisi yg disebut sebagai SUKU atau mereka tdk memahami tentang apa yg disebut sebagai LUWU dalam khazanah sejarah kita, atau mungkin kombinasi diantara keduanya.

    Mengenai struktur sosial masyarakat sulawesi selatan, sy lebih suka mengambil pijakan awal argumentasi sy, bukan satu2nya, pada buku yg di tulis oleh Prof. H. A. Mattulada yg brjudul "Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan" untuk 2 alasan utama :
    1. Kapasitas keilmuwan beliau yg sdh tdk diragukan lg dibidang sejarah dan antropologi, khususnya pd masyarakat sulawesi selatan. Reputasi beliau yg dikenal luas, dan beberapa tulisan beliau mnjadi rujukan d mancanegara dlm memahami masyarakat sul-sel.
    2. Beliau hidup di suatu masa dimana atmosfir feodalisme masih cukup kental dalam masyarakat sulawesi selatan. Beliau msh bs brtatap muka dgn 2 Raja Utama d Sulawesi Selatan pd wkt itu, YM Arumpone Andi Mappanyukki dan YM Datu Luwu Andi Djemma, selain itu msh banyak aristokrat utama yg lain.

    Oleh krn kedua alasan trsbut, kapasitas keilmuwan dan pengawasan oleh kelompok yg berada dlm pusat cerita, mk sy mengganggap buku tersebut cukup kuat untuk menjadi pijakan argumentasi sy.

    Dan di dalam buku Prof. H.A. Mattulada tsb, "Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan" sgt jelas bahwa dalam struktur sosial masyarakat sulawesi selatan, trdapat hanya 4 suku utama, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Dalam buku tersebut jg disebutkan bahwa di sul-sel trdapat 3 kerajaan Utama yg biasa disebut sebagai Tellu BoccoE, yaitu :
    1. Kerajaan LUWU (Aristokrasi suku Bugis)
    2. Kerajaan BONE (Aristokrasi suku Bugis)
    3. Kerajaan GOWA (Aristokrasi suku Makassar)
    Suku Toraja, yg tersebar banyak mendiami pegunungan tengah pulau sulawesi, membentuk sebuah aliansi utama yg disebut sbg Tallu Lembangna,
    Sementara Suku Mandar, membentuk aliansi Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga, dgn Balannipa sebagai induknya.

    Dari tulisan Prof. Mattulada tsb, sgt jelas bahwa apa yg d sebut sebagai LUWU d dalam sejarah masyarakat sul-sel adalah terminologi yg merujuk kepada nama sebuah kerajaan utama yang dibentuk oleh sebuah aristokrasi suku Bugis. Semua simbol-simbol kerajaan Luwu adalah simbol-simbol kebesaran yg ada dalam khazanah kebudayaan suku Bugis. Bahasa yg dipakai sebagai bahasa resmi kerajaan di seluruh wilayah kerajaan Luwu yg luas tsb serta penulisan naskah2 kerajaan, adalah bahasa Bugis. Gelar bangsawan di kerajaan Luwu pun, sejak zaman I Laga Ligo sampai hari ini, adalah bercorak Bugis.

    Salah satu penegasan yg tdk trbantahkan mengenai wacana ini kt ambil dari gelar salah seorang Ratu di istana Kerajaan Luwu. Beliau adalah permaisuri dari Raja Luwu yg bergelar Puatta Sultan Muhammad Mudharuddin, beliau adlh saudara kandung dari I Manggarangi Daeng Mangrabia Sultan Alauddin, Raja Gowa XII. Oleh kerajaan Gowa, krn posisi beliau yg menjadi permaisuri Raja Luwu, dan kemudian tinggal di istana Raja Luwu, beliau kemudian di beri gelar sebagai "Karaenta Ri Balla Bugisi", artinya "Tuan/Junjungan Kita di Istana Bugis".

    Jd smuanya sdh sgt jelas dan kasat mata, krn bukti2 tsb msh dpt dlihat hingga hari ini, bahwa apa yg disebut sebagai suku Luwu, tidaklah pernah dikenal dalam sejarah, definisi ttg hal tsb sama ahistorisnya dgn apa yg org selama ini sebut sebagai bahasa Luwu.

    LUWU dalam sejarah adalah nama sebuah kerajaanutama di sulawesi selatan yg kendali kekuasaannya dibentuk dan dibangun oleh aristokrasi suku Bugis, yg mempunyai karakter masyarakat heterogen yg inklusif, trbukti dgn kemampuannya menghimpun dan mengayomi 12 anak suku yg ada d wilayahnya.

    BalasHapus
  34. orang asli LUWU bisa di katakan sebagai orang bugis, Tapi orang BUGIS tidak bisa dikatakan sebagai orang LUWU, Berarti orang suku bugis nenek moyangnya adalah keturunan dari orang ASLI LUWU...
    Semoga bisa dijadikan pedoman...

    BalasHapus
    Balasan
    1. konklusi anda ini mmbingungkn, aneh dan ambivalen. Sdh d jelaskn sebelumnya bahwa Luwu itu dlm sejarah hanyalah sebuah nama kerajaan, tdk ada pemahaman sosiolog-antropologi yang menunjuk Luwu sbg suatu identitas masyarakat tunggal yang homogen, apalagi misal sbagai suku, suku Luwu. Itu sama anehx ktika ada orang mengatakan sebagai suku Bone, suku Gowa atw suku Wajo misalx. Luwu itu nama sebuah kerajaan, didalamx trdapat suatu komunitas masyarakat yang heterogen yang mempunyai identitas sosial yang khas masing2. D banyak sumber sejarah, mrk d sebut sbg 12 anak suku dlm kerjaaan Luwu. Kedua belas anak suku inilah yang d kemudian hari berkembang, seiring dgn prkembngan peradaban kerajaan Luwu menjadi cikal bakal suku2 utama, bukan hanya di Sulawesi Selatan, namun sulawesi besar (seluruh pulau sulawesi). Mulai org2 Ara d Tana Beru smpai suku Sulu d Skitar Mindanao, wolio, kaili dll, bahkan smpai komunitas pemburu paus yang tinggal d Lamalera - NTT mngaku leluhur mrk dari Luwu. Sy sndiri adalah suku Bugis, ayah sy kturunan Macoa bawalipu d wotu, ibu sy cicit dari Andi Mattangkilang, mantan mincara d wotu d zaman kerajaan Luwu, yang d makamkn d LokkoE, kompleks raja2 Luwu d Palopo, klg ibu sy saat ini bnyak brmukim d malangke So, dr silsilah kedua org tua sy, apakah sy ini kurang 'Luwu'?? Dlm rumpun klg kami, kami menggunakan bahasa Bugis sbg bahasa kseharian dlm lingkungan klg. Jd apakah ada yang salah ketika sy mengidentifikasi diri sy sbg suku Bugis dari Luwu atw Bugis Luwu?? Apa bedanya ktika ada org yang mngaku sbg Bugis Pinrang, Bugis Bone, Bugis Sinjai, dll...

      Hapus
  35. Humaidy Nur Saidi: "Bugis yang bertemu Toraja di Sulbar di sebut Mandar. Dan bugis yang bertemu toraja di Enrekang di sebut Duri dan Massenrengpulu" ILMIAH YAAAA.....???? sangat berani saudara menyimpulkan seperti itu, apa saudara menyaksikan penyebaran penduduk itu,.. hhahahaa

    BalasHapus
  36. Apa si ϑΐ perebutkan. Intinya nda ªϑa͡ª suku luwu yang pastinya luwu itu suku bugis.dan luwu itu bugis tertua awal mula tau. Dan bahas luwu itu bahsa elit Ў∂πğ ϑΐ ambil dari sepuluh lebih suku yag ϑΐ gaung kan menjadi bahasa luwu.jdi orang luwu itu ϑΐ jak bahasa bugis,makassar, mandar,toraj dll pasti dia paham. O°˚˚°K‎​є̲̣̣̣̥έƴ‎​​ ‎​(y) tanks

    BalasHapus
  37. Apa si ϑΐ perebutkan. Intinya nda ªϑa͡ª suku luwu yang pastinya luwu itu suku bugis.dan luwu itu bugis tertua awal mula tau. Dan bahas luwu itu bahsa elit Ў∂πğ ϑΐ ambil dari sepuluh lebih suku yag ϑΐ gaung kan menjadi bahasa luwu.jdi orang luwu itu ϑΐ jak bahasa bugis,makassar, mandar,toraj dll pasti dia paham. O°˚˚°K‎​є̲̣̣̣̥έƴ‎​​ ‎​(y) tanks

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya,
Apabila ada sesuatu yang tidak berkenan sampaikan saran dan kritik pada kolom komentar agar bisa segera dilakukan perubahan/perbaikan, Semoga bermanfaat .....!
Salama Topada Salama